Skip to main content

Waspadalah! Sogok merupakan cikal-bakal lahirnya Kebiasaan Korupsi.


Dalam ilmu sosial dikatakan bahwa sesuatu yang lakukan secara wajar kemudian dijadikan sebagai suatu kebiasaan dan pada akhirnya menjadi syarat tertentu dalam melakukan kegiatan bisa disebut sebagai kebuadayaan masyarakat. Salah satu contoh terkait adalah budaya sogok (suap).
Terkait dengan kebiasaan suap, berarti dua pihak telah menyepakati cara tersebut sebagai jalan untuk menyelesaikan kehendak secara mulus. Pihak yang pertama merasa aman karena urusannya lancar sementara pihak yang menentukan kebikajan merasa senang karena mendapat bantuan (sejumlah materi sogokan). Memang secara fungsional, praktek sogok merupakan kerjasama yang baik dan jalan termudah untuk menggapai tujuan oleh masyarakat.
Mempraktekkan budaya sogok sepertinya merupakan cikal lahirnya korupsi. Terlebih lagi ketika kebiasaan sogok telah dianggap sebagai suatu hal yang biasa-biasa saja. Hukum sosial juga ada yang berbunyi, “suatu pelanggaran yang dilakukan secara berkala dan pada frekuensi yang lebih padat akan berubah menjadi suatu kebenaran pada masyarakat”.
Hukum inilah yang mempertegas bahwa budaya korupsi akan menjadi pembenaran karena cikal bakalnya (suap) telah dianggap sebagai suatu hal yang wajar.
Dengan demikian, kalau tidak ingin kasus korupsi merajalela, maka harus dilakukan pencegahan terhadap seluruh potensi yang menyebabkan lahirnya budaya korupsi. Dalam hal ini, budaya suap merupakan salah satu faktor/potensi yang menyebabkan korupsi juga dianggap suatu hal yang biasa-biasa saja.
Hati-hati menganggap “biasa-biasa saja” terhadap sesuatu yang tidak semestinya dianggap hal yang biasa-biasa saja, jika budaya tersebut tidak ditanggapi secara serius, maka bisa jadi masalah tersebut juga dianggap sebagai sesuatu yang biasa-biasa saja dan hal tersebut berarti bahwa budaya suap juga telah disepakati.
Waspadalah terhadap bahayanya!

Comments

Popular posts from this blog

Saya Memilih Domisili di Kab. Gowa

Setelah memilih salah satu dari kandidat calon pemimpin baru Sulawesi Selatan pada selasa kemarin. Kali ini saya dihadapkan pada pilihan menetap di Bulukumba atau Kabupaten Gowa. Pilihan ini sebetulnya agak ribet bagi saya. Jika saya memilih tinggal di Bulukumba, berarti saya harus menyiapkan waktu dan tenaga ke Makassar setiap hari jum’at untuk kuliah dan balik lagi kekampung pada hari minggu untuk rutinitas pertanian.

Belajar dari Kekecewaan

Sambil ngopi dan ngobrol di kamar kost seorang diri (maksudnya mikirin nasib dimasa mendatang) tiba-tiba perhatian saya tertuju pada sebuah status yang ditulis oleh Ustadz Sukardi yang popuer disapa ustads muda di kampung kami.

Do'a Untukmu dan sahabat-sahabat yang lagi Butuh perawatan di RS Bhayangkara

Kemarin saya mendapat informasi tentang kabar kamu yang lagi terbaring dan butuh perawatan di Rumah Sakit Bhayangkara Makassar. Saat itu saya belum bisa menjengukmu karena masih menunggu seseorang untuk menepati janjiku. Janji untuk menemui sang ketua gerakan kolektif, wadah tempatku berkecimpung.