Skip to main content

Wija to Bulukumba


Pelukis           : Muhammad Irzal
Judul           : Bija To Kajang
Objek Lukisan          : Abdul Haris Mubarak
Tanggal Pembuatan : 15 Mei 2013
Alat            : Program Aplikasi Photoshop
Lama Pembuatan  : 3 (tiga) Jam
Harga           : Rp.0,-
Lukisan ini menggambarkan kecintaan pada budaya-budaya lokal. Simbol budaya lokal antara lain pakaian, bahasa, pergaulan, karya serta kebiasaan-kebiasaan lain yang dilakukan oleh suatu masyarakat. Kecintaan terhadap budaya yang cenderung mempertahankan nilai-nilai budaya. Salah satu bentuk dari kecintaan terhadap budaya antara lain adalah tetap menggunakan simbol adat, sebagai contoh memakai Passapu (penutup kepala) sebagai simbol kebudayaan masyarakat Kajang di Bulukumba.

Comments

  1. Baik banget turut melestarikan budaya lokal/traditional
    Harganya bukan Rp 0,- tetapi Rp tak terhingga

    ReplyDelete
  2. Harga Lukisannya bang yang tak dinilai dengan Rupiah tapi dinilai dengan semangat dan rasa syukur karena budaya masih tetap ada

    ReplyDelete

Post a Comment

شُكْرًا كَثِرًا
Mohon titip Komentarnya yah!!
وَالسَّلامُ عَليْكُم

Popular posts from this blog

Belajar dari Kekecewaan

Sambil ngopi dan ngobrol di kamar kost seorang diri (maksudnya mikirin nasib dimasa mendatang) tiba-tiba perhatian saya tertuju pada sebuah status yang ditulis oleh Ustadz Sukardi yang popuer disapa ustads muda di kampung kami.

Saya Memilih Domisili di Kab. Gowa

Setelah memilih salah satu dari kandidat calon pemimpin baru Sulawesi Selatan pada selasa kemarin. Kali ini saya dihadapkan pada pilihan menetap di Bulukumba atau Kabupaten Gowa. Pilihan ini sebetulnya agak ribet bagi saya. Jika saya memilih tinggal di Bulukumba, berarti saya harus menyiapkan waktu dan tenaga ke Makassar setiap hari jum’at untuk kuliah dan balik lagi kekampung pada hari minggu untuk rutinitas pertanian.

Do'a Untukmu dan sahabat-sahabat yang lagi Butuh perawatan di RS Bhayangkara

Kemarin saya mendapat informasi tentang kabar kamu yang lagi terbaring dan butuh perawatan di Rumah Sakit Bhayangkara Makassar. Saat itu saya belum bisa menjengukmu karena masih menunggu seseorang untuk menepati janjiku. Janji untuk menemui sang ketua gerakan kolektif, wadah tempatku berkecimpung.