Rumah Nalar, yang awalnya hanya bergerak sebagai komunitas literasi dan sastra di desa, untuk pertama kalinya mengajukan proposal fasilitasi kepada Badan Bahasa pada tahun 2025. Saat itu, kami tidak memiliki ekspektasi yang terlalu tinggi. We just tried our best and submitted what we had.
Beberapa waktu kemudian, kami mendapat kabar yang sangat membahagiakan. Rumah Nalar dinyatakan lolos sebagai salah satu penerima fasilitasi bersama hanya tiga komunitas lainnya di Provinsi Sulawesi Selatan. Secara nasional, program ini hanya diberikan kepada 35 komunitas di seluruh Indonesia, dengan nilai dukungan yang cukup besar, mencapai maksimal Rp100 juta.
At that moment, I thought, "Maybe this is a blessing and a big opportunity for Rumah Nalar."
Melalui program ini, kami berhasil mendokumentasikan berbagai cerita luar biasa tentang Desa Anrang. Hasilnya adalah sebuah buku karya sastra yang lahir dari tangan para pemuda desa. Sebuah karya yang bukan hanya menjadi dokumentasi, tetapi juga menjadi jejak sejarah dan identitas masyarakat kami.
Kami juga mendapatkan kesempatan mengikuti berbagai pertemuan bersama Badan Bahasa, Balai Bahasa dari berbagai provinsi, serta 35 penerima manfaat dari seluruh Indonesia. For us, it was not only a program, but also a valuable learning journey and networking experience.
Salah satu momen yang paling berkesan terjadi saat proses LPJ (Laporan Pertanggungjawaban). Seorang PIC kegiatan bertanya kepada saya:
"How can your literary community remain sustainable if one day you no longer receive financial support from the government?"
Saya menjawab dengan sederhana:
"The first thing is, we built Rumah Nalar in 2017, and at that time we did not receive financial support from anyone. We started with our own spirit and commitment. Besides that, we are developing Rumah Nalar Literacy Garden, which in the future can provide additional income to support our community activities."
Jawaban itu lahir dari pengalaman nyata, karena memang sejak awal kami bergerak bukan karena ada bantuan, tetapi karena ada mimpi dan kepedulian terhadap masyarakat.
Ada juga pengalaman menarik lainnya. Seseorang pernah meminta proposal kami. Setelah membacanya, ia berkata dengan nada bercanda,
"Proposalnya biasa saja ya?"
Maybe what he meant was, "How could this proposal get selected?"
Saya hanya tersenyum.
Dalam hati saya berkata:
"Honestly, I don't know either."
Saya tidak tahu bagian mana yang dianggap paling menarik oleh para kurator. Kami merasa komunitas kami biasa saja. Proposal kami juga tidak dibuat dengan desain yang mewah atau kata-kata yang rumit.
But maybe, we simply gave the organizers what they needed.
Kami menulis apa yang benar-benar kami kerjakan. Kami menunjukkan apa yang benar-benar terjadi di lapangan. Tidak lebih, tidak kurang.
Memang tidak ada yang luar biasa dari komunitas kami. Kami hanyalah sekelompok orang di sebuah desa kecil yang terus berusaha bergerak, belajar, dan berbagi manfaat.
Namun mungkin, justru karena itulah Rumah Nalar dipercaya.
Because authenticity, consistency, and real impact sometimes speak louder than a perfect proposal.

.jpeg)
Comments
Post a Comment
شُكْرًا كَثِرًا
Mohon titip Komentarnya yah!!
وَالسَّلامُ عَليْكُم