Skip to main content

Nasib harus diperjuangkan


“Mungkin sudah nasib” kata temanku saat kesempatan menjadi pekerja sosial pendamping korban tindak kekerasan dan pekerja migrant gagal ia peroleh.
Inilah yang disebut sebagai kesadaran mistik karena menganggap keberhasilan tergantung pada garis tangan atau nasib seseorang. Sementara teman yang juga ikut menjadi peserta seleksi lainnya mengatakan “ini adalah terkait kebijakan pelaksana”, siapa yang dinggap tepat dalam menyelesaikan tes atau paling tepat untuk menempati posisi tersebut maka dialah yang dijadikan sebagai pengendali oleh pemengang kebijakan yang memiliki wewenang untuk pendamping korban tindak kekerasan. Anggapan temanku ini mungkin bisa disebut sebagai kesadaran naïf.
Sebenarnya yang ikut seleksi hanya tiga orang, termasuk saya tetapi ketika mencoba membangkitkan semangat teman-teman AlumniKessos dengan menyebar informasi melalui pesan singkat berbunyi “kessos belum terbukti lolos jadi advokasi peksos untuk tenaga pendamping korban tindakkekerasan dan pekerja migrant. Hehehe, mungkin udah nasib yach?”. Tanggapan teman saya adalah seperti di atas, tapi ada yang lebih unik yaitu temanku memberi komentari sangat lucu dan unik, katanya “bukan nasib, tapi kebijakan yang pincang.” Saya tidak tau jenis kesadaran apa komentar ini tapi andaikan ada seorang ilmuan yang pernah memasukkan kritis sebagai suatu kesadaran maka saya anggap temanku ini memiliki paradigma kesadaran kritis menanggapi phenomena ini.
Anggapan boleh beda, itu tergantung dari cara memandang dari mana fokus perhatian itu menjadi sorotan. Kalau pribadi saya memandang ini adalah suatu peluang untuk memperbaiki kondisi masa depan yang lebih baik dan terencana. Ini merupakan pengalaman sebagai dasar untuk melangkah dan saya yakin bahwa yang menanti saya adalah hal yang lebih baik. Saya juga yakin bahwa saya tidak mungkin mendapatkan tempat yang tidak pantas untuk saya yang juga berarti bahwa ada kemungkinan saya bakal menjadi angkuh ketika berada pada posisi ini. Saya kira semangat pagi untuk tidak berhenti berjuang demi kesejahteraan rakyat adalah suatu paradigma yang cocok dan tertanam padapribadi kita semua karena ini merupakan bentuk kesadaran rasional.


untuk Sahabat-sahabatku, tetap semangat dan jangan pernah berhenti berjuang

Comments

Post a Comment

شُكْرًا كَثِرًا
Mohon titip Komentarnya yah!!
وَالسَّلامُ عَليْكُم

Popular posts from this blog

Belajar dari Kekecewaan

Sambil ngopi dan ngobrol di kamar kost seorang diri (maksudnya mikirin nasib dimasa mendatang) tiba-tiba perhatian saya tertuju pada sebuah status yang ditulis oleh Ustadz Sukardi yang popuer disapa ustads muda di kampung kami.

Saya Memilih Domisili di Kab. Gowa

Setelah memilih salah satu dari kandidat calon pemimpin baru Sulawesi Selatan pada selasa kemarin. Kali ini saya dihadapkan pada pilihan menetap di Bulukumba atau Kabupaten Gowa. Pilihan ini sebetulnya agak ribet bagi saya. Jika saya memilih tinggal di Bulukumba, berarti saya harus menyiapkan waktu dan tenaga ke Makassar setiap hari jum’at untuk kuliah dan balik lagi kekampung pada hari minggu untuk rutinitas pertanian.

Do'a Untukmu dan sahabat-sahabat yang lagi Butuh perawatan di RS Bhayangkara

Kemarin saya mendapat informasi tentang kabar kamu yang lagi terbaring dan butuh perawatan di Rumah Sakit Bhayangkara Makassar. Saat itu saya belum bisa menjengukmu karena masih menunggu seseorang untuk menepati janjiku. Janji untuk menemui sang ketua gerakan kolektif, wadah tempatku berkecimpung.