Kamis, 15 Maret 2012

Anda mau jadi orang kaya atau kebutuhan tercukupi?


Hujan deras yang mengiringi perjalanan pelang dan pergi kami mengambil AC untuk dipasang diposko Induk TAGANA Sulawesi Selatan mewarnai perjalanan kami. Bukan mengambil AC yang terkesan, bukan pula hujan disepanjang perjalanan kami dari berangkat hingga kembali keposko membawa AC tetapi cerita tentang pengalaman kami berdua di kursi mobil TRC bagian belakang saat perjalanan. Ceritanya sederhana tapi dia mengingatkanku pada beberapa pelajaran dan pengetahuan masa lalu yang telah berkarat. Dalam ceritanya, temanku mengatakan kalau dirinya selalu bersyukur atas apa yang dimilikinya dan karenanya ia selalu merasa cukup.
Kalau yang saya ketahui bahwa orang yang kaya raya adalah mereka yang terpenuhi kebutuhannya dan syarat untuk memenuhi semua itu adalah dengan merasa cukup dan selalu bersyukur. Untuk temanku ku katakan bahwa dua hal utama yang terbaik untuk menjadi kaya adalah merasa cukup dan tidak memiliki banyak kebutuhan. Uraiannya sebagai berikut;
Bagian pertama yaitu merasa cukup atau pandai bersyukur terhadap apa yang dimiliki. Bersyukur itu sesuatu yang mudah pada ucapan tapi wujud dalam amalan itu yang sulit. Kadang orang mengatakan “saya bersyukur karena…. (mendapatkan sesuatu)” Tetapi dalam dirinya tidak ada kepuasan. Mereka selalu ingin sesuatu yang lebih besar dan berharga meskipun harus mengorbankan diri pribadi atau orang lain demi tercapainya tujuan itu. Gambaran ini berlaku umum tetapi hanya sebagian orang yang benar-benar mampu bersyukur atas apa yang dimilikinya.
Bagian kedua adalah merasa cukup. Hampir senada dengan syukur karena pada beberapa sisi ini bisa berlaku causalitatif yaitu orang bersyukur karena kebutuhannya terpenuhi atau tercukupi.
Kebutuhan dasar manusia adalah makan, minum, pakaian, tempat tinggal, seks dan lain-lain. Dalam ilmu ekonomi dianggap sebagai kebutuhan primer dan ini adalah hal utama yang harus dipenuhi tapi bagi kaum sufi, makanpun tidaklah utama dalam hidup.
Bagi orang awam yang memandang bahwa kekayaan seseorang terletak pada jumlah materi yang dimilikinya sesungguhnya tidak singkron dengan apa yang dirasakan oleh orang melihmpah hartanya. Boleh jadi orang memiliki harta yang berlimpah tetapi merasa selalu merasa kurang, tidak cukup atau bahkan ada yang harus mengutang atau menggadaikan barangnya untuk kebutuhannya.
Harta yang berlimpah juga seringkali semakin membuat orang haus untuk terus menambah dan mencari harta yang lebih banyak. Kuncinya adalah merasa cukup dengan apa yang dimiliki adalah kekayaan yang seutuhnya.
Itulah yang sempat terlintas dibenakku saat bercengkrama dengan temanku. Perjalanan yang diwarnai oleh hujan deras juga membuat suasana semakin berwarna. Cerita lain yang disampaikan oleh temanku adalah tentang Utang. Saya salut dengan bahasanya bahwa kalau ada orang yang mau pinjam maka itu adalah sesuatu yang hampir wajib untuk diberi pinjaman lalu melupakan pinjaman itu. Terserah dari orang yang meminjam ingin mengembalikan atau tidak, baginya jika pinjaman itu kembali berarti rejeki dan jika terlupakan maka itu adalah pahalah. Ia juga menganggap sedekah semata jika ada yang meminjam dalam jumlah kecil.
Kalau saya berada pada posisi temanku ini maka tidaklah masalah karena saya agak sejalan dengan tuturnya tetapi alangkah buruknya jika saya yang meminjam. Saya takut jika harus berutang terlebih melupakan utang, entah itu materi atau nonmateri.

Terimakasih teman, jiwamu baik. Semoga baik juga dimata Islam.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

شُكْرًا كَثِرًا
Mohon titip Komentarnya yah!!
وَالسَّلامُ عَليْكُم

Sahabat di Google +