Hari itu saya tidak menyangka akan melakukan sesuatu yang sangat hina dan memalukan karena memperlihatkan sikap dan sifat yang penuh dengan amarah. Saat saya diminta melakukan sesuatu, justru direspon dengan balasan yang kasar dan sampai saat ini masih menjadi beban dijiwaku. Kenapa hal itu harus terjadi?. Maafkan saya kawan, memang saya tau ada waktu dimana saya harus memanfaatkan marah sebagai senjata untuk menyelesaiakan persoalan. Ternyata amarah telah menyelimuti diri saya dan itu berarti harus ada refleksi kegiatan spiritual untuk me refresh jiwa ini biar kembali seimbang dan tenang. Mungkin ini adalah tanda betapa saat ini ke iman an saya lagi kering dan tandus sehingga banyak melakukan kesahalan dan tidak mempedulikan betapa pentingnya membangun hubungan yang harmonis kepada siapa saja, termasuk hubungan kepada tuhan, hubungan kepada sesama manusia dan hubungan terhadap alam raya. Saat menyadari itu, betapa malunya saya yang terkesan Pa’bambangang. Itu tidak harus terjadi d...