Rabu, 06 Juni 2012

Kemunduran dan Keruntuhan Dinasti Bani Abbasiyah


Kemunduran dan Keruntuhan Dinasti Bani Abbasiyah
Oleh ;
Abdul Haris Mubarak
0007.03.30.2012
--------------------------
I.         PENDAHULUAH

A.       Latarbelakang Masalah
Roda kepemimpinan tidak selalu di kendalikan oleh orang  atau sekelompok orang. Oleh karena itu, sering kali terjadi perubahan tatanan dalam suatu kepemimpinan yang menganggap bahwa perombakan adalah salah satu jalan untuk meraih kesejatian dalam kepemimpinan tersebut. Juga Wajar bila sering kali terjadi sebuah pemikiran pada suatu zaman mahsyur, namun pada zaman yang berbeda mengalami keredupan, atau sebaliknya. Pada periode tertentu dikutuk, pada saat yang lain dipuja habis-habisan.[1] Kondisi seperti itu mengisyaratkan bahwa potensi seseorang untuk menjadi yang terbaik adalah suatu semangat dalam mengarungi roda kehidupan kehidupan. Yang pasti adalah untuk meraih suatu kebaikan maka juga harus ditempuh melalui jalur yang baik pula.
Agama Islam yang dalam hal ini memberikan corak kepemimpinan yang disebut sebagai khalifah tentunya memiliki tawaran tersendiri yang memang dianggap pas untuk menjadi penengah di dunia Islam. Salah satu potensi yang dimiliki oleh orang-orang Islam yang menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman adalah, Islam betul-betul mampu menawarkan pemecahan yang damai terhadap segala penyakir sosial. Kedua, mampu menyediakan kesempatan dalam spectrum yang luas bagi aktivis sosial muslim, yang ketiga adalah mampu membangun ikatan kemanusiaan yang mungkin belum pernah ada sebelumnya.[2] Gambaran tersebut tentunya mengisyaratkan bahwa bangunan kekuasaan dalam hal ini (dapat dikonotasikan sebagai kepemimpinan) akan berjalan lancar ketika mengupayakan tiga potensi sebagaimana diuraikan di atas. Sebaliknya, jika mengupayakan suatu bangunan (kepemimpinan) yang tidak berdasar pada konsep Islam (salah satunya adalah taqwa) maka akan terjadi keruntuhan, bahkan kebinasaan yang menghinakan. Hal ini telah Allah wahyukan di dalam Al-Qur’an sebagaimana terdapat dalam Q.S At-Taubah 9 : 109 berikut:
ô`yJsùr& š[¢r& ¼çmuZ»uø^ç/ 4n?tã 3uqø)s? šÆÏB «!$# AbºuqôÊÍur îŽöyz Pr& ô`¨B }§¢r& ¼çmuZ»uø^ç/ 4n?tã $xÿx© >$ãã_ 9$yd u$pk÷X$$sù ¾ÏmÎ/ Îû Í$tR tL©èygy_ 3 ª!$#ur Ÿw Ïöku tPöqs)ø9$# šúüÏJÎ=»©à9$# ÇÊÉÒÈ
Terjemahnya : Maka apakah orang-orang yang mendirikan bangunan (mesjid) di atas dasar taqwa kepada Allah dan keridhaan-(Nya) itu yang baik, ataukah orang-orang yang mendirikan bangunannya di tepi jurang yang runtuh, lalu (bangunan) itu roboh bersama-sama dengan dia ke dalam neraka jahannam?. dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang- orang yang zalim.[3]
Dalam Sejarah Peradaban Islam tercatat bahwa telah terjadi beberapa kali pergantian kepemimpinan Islam, ada yang digantikan Karena memang dianggap sudah sewajarnya digantikan misalnya Khalifah Abu Bakar  yang meminta untuk digantikan karena kondisi kesehatannya yang sudah tidak lagi memungkinkan untuk memimpin umat Islam.[4] Sementara itu ada Khalifah yang wafat kerena dibunuh, serta dinasti ada yang runtuh karena ada dinasti lain yang kuat untuk membangun gerakatan kolektif[5]. Kondisi tersebut sekaligus menjawab bahwa tidak ada kekuasaan yang total dan abadi pada suatu kepemimpinan dinasti melainkan akan berangkat dari kondisi yang standar lalu meningkat hingga pada puncaknya. Entah puncak kejayaan biasa-biasa saja atau luar biasa tapi sesuatu yang pasti adalah bahwa akan terjadi penurunan setelah mencapai pucak untuk perjalanan roda kepemimpinan.
Daulat Bani Abbas yang terbentuk pada tahun 132 H (750 M) s.d. 656 H (1258 M) juga berangkat dari dasar lalu menciptakan pola pembangunan bangsa hingga mencapai puncak kejayaannya. Lalu pada babakan selanjutnya mengalami kemunduran hingga mengalami keruntuhan. Yang menjadi pertanyaan adalah mengapa terjadi kemuduran peradaban dunia Islam pada Masa Dinasti Bani Abbasiyah?

B.       Permasalahan
Berangkat dari uraian di atas, dapat diangkat suatu permasalahan yaitu mengapa dunia Islam mengalami kemunduran dalam peradaban dunia?, agar permasalahan tersebut tidak meluas, maka akan diuraikan sub permasalahan berikut ini:
1.      Faktor-faktor apa yang menyebabkan terjadinya kemunduran pada Dinasti Bani Abbasiyah
2.      Apa yang menyebabkan terjadinya keruntuhan pada Dinasti Bani Abbasiyah?
Dua sub permasalahan tersebut diangkat di atas dianggap dapat menjawab permasalahan tersebut.

II.      PEMBAHASAN
A.       Faktor Penyebab Kemunduran Khalifah Bani Abbas
Sejak periode pertama, sebenarnya banyak tantangan dan gangguan yang dihadapi Dinasti Abbasiyah. Beberapa gerakan politik yang meronrong pemerintah dan mengganggu stabilitas muncul dimana-mana, baik gerakan dari kalangan intern Bani Abbas sendiri maupun dari luar. Namun, semuanya dapat diatasi dengan baik. keberhasilah penguasa Abbasiyah mengatasi gejolak dalam negeri makin memantapkan posisi dan kedudukan mereka sebagai pemimpin yang tangguh. Kekuasaan benar-benar berada ditangan khalifah. Keadaan ini sangat berbeda dengan periode sesudahnya. Setelah periode pertama berlalu, para khalifah sangat lebah. Mereka berada di bawah pengaruh kekuasaan yang  lain.[6]
Perkembangan peradaban dan kebudayaan serta kemajuan besar yang dicapai dinasti Abbasiyah pada periode pertema telah mendorong para penguasa untuk hidup mewah, bahkan cenderung mencolok. Setiap khalifak cenderung ingin lebih mewah dari pendahulunya. Kehidupan mewah khalifah-khalifah ini ditiru para hartawan dan anak-anak pejabat.kecenderungan bermewah-mewah, dtambah kelemahan khalifah dan faktor lainnya menyebabkan roda pemerintahan terganggu dan rakyat menjadi miskin. Kondisi ini member peluang kepada tentara professional asal Turki yang semula diangkat oleh khalifah  Al-Mu’tashim untuk mengambil alih pemerintahan. Usaha mereka berhasil, sehingga kekuasaan sesungguhnya berada di tangan mereka, sementara kekuasaan bani Abbas didalam khalifah Abbasiyah yang didirakannya mulai pudar dan ini merupakan awal dari keruntuhan dinasti ini, meskipun setelah itu usianya masih bertahan lebih dari 400 tahun.
Faktor lain yang menyebabkan peran politik bani Abbas menurun adalah perebutan kekuasaan di pusat pemerintahan. Hal ini sebenarnya juga terjadi pada pemerintahan-perintahan Islam sebelumnya, tetapi apa yang terjadi pada pemerintahan Abbasiyah berbeda pada pemerintahan sebelumnya.
Bermula dari kebijakan Al-Mu’tashim, khalifah dari keluarga Abbas (833-842 M) yang memberi peluang besar kepada orang-orang Turki untuk masuk dalam pemerintahan, pemerintahan mereka dimulai sebagai tentara pengawal. Tentara dibina secara khusus menjadi prajurit-prajurit professional. Kondisi pertahanan keamanan yang kokoh tersebut semakin mengundang munculnya berbagai macam tatangan yang mengganggu stabilitas. Gerakan-gerakan tersebut seperti gerakan sisa-sisa umaiyah dan kalangan inter Bani Abbas, revolusi al-Khawarij di Afrika Utara, Gerakan Syi’ah dan konflik antar Bangsa serta aliran pemikiran keagamaan. Gerakan tersebut merupakan cikal bakal dari keruntuhan Dinasti Bani Abbasiyah setelah melemahnya kapasitas internal pemimpin di kubu Bani Abbas.[7]
Dalam suatu referensi, Periode kepemimpinan Bani Abbas dibagi menjadi dua fase. Fase pembagian ini didasarkan pada Kemajuan dan keruntuhan Daulat Bani Abbas. Fase pertama ditandai dengan perkembangan Daulat Bani Abbas, sedangkan fase kedua ditandai dengan masa kemunduran Khalifah Bani Abbas.[8]
Pandangan di atas sekaligus meggambarkan dinamika utama yang terjadi pada kepemimpinan khalifah Bani Abbasiyah yang menyebabkan merosot atau kemunduran pemerintahan ini. Diantara dinamika tersebut, disebutkan bahwa lemahnya para khalifah dan dominasi kalangan militer terhadap pusat kekuasaan. Juga disebabkan oleh munculnya negeri-negeri kecil akibat banyaknya pemimpin yang memisahkan diri dari pusat kekuasaan dan pengakuan khalifah tehadap kekuasaan mereka, point selanjutnya yang menjadi dinamika adalah munculnya peradaban-peradaban Islam masa lalu yang dikemas dalam kemewahan dan foya-foya. Diuraikan juga bahwa adanya pasukan salib yang menyerang kaum muslimin.[9]
Catatan yang mengurai secara ringkas tentang faktor penyebab kemunduran Dinasti Bani Abbas yaitu faktor internal dimana keluarga penguasa cenderung mengejar kemewahan hidup, perebutan kekuasaan antara keluarga Banis Abbasiyah serta adanya konflik keagamaan. Sedangkan faktor eksternal yaitu banyaknya pemberontakan banyaknya pemberontakan akibatnya luasnya wilayah kekuasaan yang semakin tidak terkontrol, adannya dominasi bangsa Turki.[10]

B.     Faktor Penyebab Keruntuhan Khalifah Bani Abbas
Salah satu penyebab keruntuhan atau kehancuran Pemerintahan Bani Abbas adalah adanya serangan pasukan Mongolia. Akibat dari serangan pasukan Mongolia ini jugalah yang menyebabkan jatuhnya Kekuasaan Daulat Bani Abbasiyah.[11] Adapun faktor atau sebab hancurnya pemerintahan bani Abbasiyah dapat kita lihat pada banyaknya peristiwa yang terjadi di dunia Silam saat pemerintaha Bani Abbasiyah. Juga melihat banyaknya wilayah yang memisahkan diri dan memiliki kekuasaan yang besar lalu hilang eksistensinya. Selain itu, kita melihat bahwa pemerintahan Abbasiyah mengalami masa jaya dimana kekuasaan sepenuhnya berada dibawa control para khalifah. Setelah itu, grafik kekuatannya semakin menurun hingga akhirnya berhasil dihancurkan oleh tentara-tentara Mongolia.[12]
Kalau ditanya, apa sebenarnya yang menyebabkan hancur dan ambruknya pemerintahan Abbasiyah. Mungkin bisa kita ringkas sebab-sebab kehancuran pemerintahan Abbasiyah sebagai berikut;
1.      Munculnya pemberontakan keagamaan seperti pemberontakan Zinj, Gerakan Qaramithah, Hasyasiyun, Serta Munculnya pemerintahan Ubaidiyah dan kerakan kebatinan.
2.      Adanya dominasi militer atas khalifah dan kekuasaan mereka sehingga banyak menghinakan dan merendahkan para khalifah dan rakyat.
3.      Munculnya kesenangan terhadap materi karena kemudahan hidup yang tersedia saat itu.
4.      Faktor yang paling berbahaya dan menjadi ancaman terbesar bagi kekuasaan khalifah Bani Abbasiya adalah karena mereka telah melupakan salah satu pilar terpenting dari Rukun Islam, yakni Jihad. Andaikata mereka mengarahkan potensi dan energi umat untuk melawan orang-orag salib, tidak akan muncul pemberontakan-pemberontakan yang muncul didalam negeri yang ujungnya hanya mengghancurkan pemerintahan Abbasiyah.
5.      Munculnya serangan orang-orang Mongolia yang mengakhiri semua perjalanan pemerintahan Bani  Abbasiyah.
Disintegrasi akibat kebijakan untuk lebih mengutamakan pembinaan peradaban dan kebudayaan Islam darpada politik, provinsi-provinsi tertentu di Pinggiran mulai melepaskan diri dari genggaman penguasa Bani Abbasiyah. Mereka tidak sekedar memisahkan diri dari kekuasaan khalifah, tetapi memberontak dan berusaha merebut pusat kekuasaan di bagdad. Hal ini dimanfaatkan oleh pihak luar dan banyak mengobankan umat, yang berarti juga menghancurkan sumber daya mannusia.[13]

III.   PENUTUP
Demikianlah makalah ini dibuat untuk menguraikan beberapa data penting terkait Faktor Kemundurah dan Kehancuran Khalifah Bani Abbasiyah. Beberapa catatan penting yang menjadi inti dari pembahasan di atas dapat diuraikan sebagai berikut, yaitu:
1.      Catatan yang mengurai secara ringkas tentang faktor penyebab kemunduran Dinasti Bani Abbas yaitu faktor internal dimana keluarga penguasa cenderung mengejar kemewahan hidup, perebutan kekuasaan antara keluarga Banis Abbasiyah serta adanya konflik keagamaan. Sedangkan faktor eksternal yaitu banyaknya pemberontakan banyaknya pemberontakan akibatnya luasnya wilayah kekuasaan yang semakin tidak terkontrol, adannya dominasi bangsa Turki.
2.      Faktor yang paling berbahaya dan menjadi ancaman terbesar bagi kekuasaan khalifah Bani Abbasiya adalah karena mereka telah melupakan salah satu pilar terpenting dari Rukun Islam, yakni Jihad. Andaikata mereka mengarahkan potensi dan energi umat untuk melawan orang-orag salib, tidak akan muncul pemberontakan-pemberontakan yang muncul didalam negeri yang ujungnya hanya mengghancurkan pemerintahan Abbasiyah. Akhirnya, Munculnya serangan orang-orang Mongolia yang mengakhiri semua perjalanan pemerintahan Bani  Abbasiyah.
Demikianlah uraian singkat makalah ini, semoga memberi manfaat untuk kita semua, terutama bagi pribadi penyusun.

IV.   DAFTAR PUSTAKA
Kitab Suci Al-Qur’an Departemen Agama Republik Indonesia, Al-Qur’an dan Terjemahnya (Juz 1 – Juz 30. PT. Karya Toha Putra, Semarang, 2002.
Dedi Supriady, Sejarah Peradaban Islam, Cet. X, Penerbit Pustaka Setia; Bandung 2008,
Agus Sunyoto, Suluk Abdul Jalil, Perjalanan RuhaniSyaikh Siti Jenar, Cet. VI; PT LKiS Pelangi Aksara, Yogyakarta. September 2006.
Abdul Rahman Wahid, Islam Tanpa Kekerasan, Cet II; LKiS, Yogyakarta, Septermber 2000.
Ahmad Al-Usairy, Sejarah Islam (Sejak Zaman Nabi Adam Hingga Abad XX), Cet.I; Penerbit Akbar Media, Jakarta, tahun 2010.
Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam (DIrasah Islamiyah II), Cet. XXIII, Penerbit Rajawali Press, Jakarta, tahun 2011.



[1] Agus Sunyoto, Suluk Abdul Jalil, Perjalanan RuhaniSyaikh Siti Jenar, Cet. VI; PT LKiS Pelangi Aksara, Yogyakarta. September 2006. h. v
[2] Abdul Rahman Wahid, Islam Tanpa Kekerasan, Cet II; LKiS, Yogyakarta, Septermber 2000. h. 7
[3] Kitab Suci Al-Qur’an Departemen Agama Republik Indonesia, Al-Qur’an dan Terjemahnya (Juz 1 – Juz 30. PT. Karya Toha Putra, Semarang, 2002. H. 274
[4] Dedi Supriady, Sejarah Peradaban Islam, Cet. X, Penerbit Pustaka Setia; Bandung 2008, H. 76
[5] Ibid. h .101
[6] Op. cit. h. 61
[7] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam (DIrasah Islamiyah II), Cet. XXIII, Penerbit Rajawali Press, Jakarta, tahun 2011.
[8] Ahmad Al-Usairy, Sejarah Islam (sejak zaman Nabi Adam hingga Abad kexx), Penerbit Akramedia, Jakarta Mei 2010. H. 245
[9] Ibid.
[10] Dedi Supriady, Op Cit. h. 137
[11] Ahmad Al-Usairy, Op Cit. h. 245
[12] Ibid, h. 259
[13] Dedi Supriadi, Op Cit. h. 140

3 komentar:

شُكْرًا كَثِرًا
Mohon titip Komentarnya yah!!
وَالسَّلامُ عَليْكُم

Sahabat di Google +