Sunday, 10 June 2012

Mahasiswa Mendiskusikan Nuzulul Qur'an


Diskusi yang mengangkat tema tentang nuzulul Qur’an yang berlagsung hari sabtu tanggal 9 Juni 2012 di Ruang A.106 di Kampus PPs. Universitas Muslim Indonesia menjadi topik yang menarik.
Hal itu terlihat pada interaksi forum yang secara total terbilang hidup dan memberikan warna khas dari masing-masing latarbelakang pereserta diskusi. Kajian ini merupakan tema khusus dari mata kuliah pendekatan dalam pengkajian Islam.
Saat mengangkat masalah, pemakalah ingin menjelaskan beberapa point penting yang hingga saat ini masih biasa diperdebatkan oleh mahasiswa. Masalah tersebut adalah tentang bahasa Al-Qur’an yang berbahasa arab atau bahasa arabkah yang dipakai Al-Qur’an?. Masalah yang berikutnya ialah tentang cara Nabi Muhammad saw. Menerima wahyu, bagaimana cara rasulullah mengetahui kalau itu adalah wahyu padahal untuk kondisi tertentu, ada riwayat yang mengatakan bahwa Rasulullah menerima wahyu melalui malaikat jibril yang menyamar menjadi pria muda, contoh lain ialah Rasulullah menerima wahyu dibalik hijab atau suara seperti dering lonceng. Bagaimana rasulullah mengenal kalau itu adalah wahyu? Lalu bagaimana menjelaskan ini pada orang awam? Bilakah itu terjadi? Diskusi ini juga menjelaskan Alqur’an secara ontology dan epistemology serta hikmah al-qur’an diturnkan secara berangsur-angsur.
Masalah di atas tentunya tidak sepenuhnya menjadi informasi yang jelas menurut forum atau perserta diskusi. Olehnya itu terjadi Shering pendapat antar pereserta diskusi yang masing-masing diantara mereka menunjukkan alasan dan sumber rujukan. Banyak point yang dibahas, namun hanya ada tiga point yang dibahas secara serius oleh peserta diskusi yaitu :
1.       Terkait dengan hikmah ayat yang diturunkan secara berangsur-ansur. Beberapa pendapat yang terlontar untuk menjawab pertanyaan ini, ada yang memberikan keterangan bahwa al-Qur’an turun untuk menjawab permasalahan yang terjadi saat itu, ada juga yang menjawab bahwa itu terjadi karena manusia tidak mampu menerima Al-Qur’an (hukum serta kandungan lain dari al-qur’an sekaligus). Pendapat lain mengenai diskusi ini sangat bervariatif, namun yang lain dianggap hanya sebagai pelengkap semata.
2.       Terkait dengan bahasa Al-Qur’an, apakah Karena di Arab diturunkan sehingga berbahasa Arab (dalam hal ini, jika diturunkan di Makassar, apakah Kitab Suci Islam itu akan berbahasa Makassar?), pertanyaan lain yang senada adalah mengapa al-Qur’an berbahasa Arab?. Ada yang mengatakan Bahwa karena Bahasa Akhirat adalah bahasa Arab sehingga Al-Qur’an berbahasa Arab. Ada juga yang mengatakan bahwa karena bahasa Arab merupakan bahasa yang paling banyak dipakai Rasul-rasul Sebelum Rasulullah saw. Kesimpulan dari argument awal tersebut menyatakan bahwa Bahasa Kitab suci umat Islam mutlak Berbahasa Arab namun ada yang mencoba membantah pernyataan ini bahwa Al-Qur’an berbahasa Arab karena turun di Wilayah Arab, alasannya adalah tidak mungkin suatu kitab suci diturunkan berdasarkan bahasa yang asing yang tidak dimengerti oleh yang menerima pesan atau Risalah dari Allah. Alasan ini diperkuat dengan kitab suci Allah yang turun sebelum Nabi Muhammad yaitu Taurat dan Injil yang tidak berbahasa Arab namun menggunakan bahasa yang sesuai dengan bahasa diwilayah atau tempat turunnya wahyu Allah tersebut. Misalnya Kita Injil Berbahasa Ibrani karena diturunkan untuk meluruskan kejahiliaan orang-orang Ibrani tersebut.
3.       Terkait dengan proses Rasulullah menerima wahyu, bagaimana cara Rasulullah mengenal kalau bisikan yang datang kepada beliau adalah wahyu atau bukan? Pertanyaan yang hampir senada dengan proses Nabi menerima Wahyu yaitu Bagaimana cara Rasulullah meyakinkan orang awam bahwa itu adalah wahyu? Bagaimana menjelaskan masalah ini secara logika?. Yang menjawab ini memberikan keterangan bahwa informasi yang sampai pada audienas adalah sesuatu yang dikenal karena pada suatu informasi akan selalu beriringan dengan kandungan pesan, nada pesan, dan sesuatu yang pasti adalah bahwa rasa kedekatan dari informan terhadap komunikan (yang menerima informasi), namun jawaban tersebut belum sempat terjawab secara maksimal karena kondisi waktu yang membatasi forum diskusi. Keterangan yang sempat dikemukakan oleh peserta diskusi adalah bagaimana menjelaskan kalau kelompok orientalis atau ateis secara logika tentang model pewahyuan nabi tersebut. Jawaban yang ada menjelaskan bahwa tidak mungkin manusia mampu membuat surat yang menyerupai Ayat-Ayat Al-Qur’an walaupun secara keseluruhan dari manusia bersatu untuk membuat 10 ayat saja yang serupa dengan Al-Qur’an.

No comments:

Post a Comment

شُكْرًا كَثِرًا
Mohon titip Komentarnya yah!!
وَالسَّلامُ عَليْكُم