Saturday, 7 July 2012

Mengantisipasi Gerakan Neoliberalisme


Tulisan ini adalah hasil diskusi bersama Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Cab. Gowa beberapa hari yang lalu. Tema pembahasan adalah Filsafat Aksiologi kemudian mengangkat pembahasan tentang media terhadap aktivitas manusia.
Pada Diskusi ini, hanya dihadiri oleh sedikit peserta, namun sumbangsi pemikiran serta gagasan-gagasan kritis banyak yang tercipta melalui forum diskusi ini.
Pembicara pertama mengangkat tema tentang pembunuhan karakter bangsa oleh kaum neoliberalisme melalui media. Yang ditekankan adalah buruknya dampak dari Issue publik yang disalurkan kemasyarakat umum, khususnya dinegeri ini. Dalam pemaparannya diungkapkan bahwa gejala sosial yang terjadi tidak lepas dari doktrin pengetahuan yang lebih dominan terhadap pola hidup masyarakat. Tentunya pandangan pembicara disini menganggap bahwa penanaman informasi tidak bebas nilai dan juga berarti bahwa pengetahuan sebetulnya juga demikian, yaitu tidak bebas nilai sehingga butuh penyaring yang kuat untuk menyeleksi batasan informasi yang bisa diamalkan.
Contoh yang diangkat ialah penanaman ilmu pengetahuan tentang positivisme yang sebetulnya tidak tepat diberlakukan secara total di Negeri ini. Terkait dengan doktrin pengetahuan, tentunya kurang tepat jika ini diberikan karena pola penalaran yang ditanamkan hanyalah yang bersifat rasio sementara menolak pengetahuan yang bersifat mistik atau di luar rasio. Di negeri ini, etika lebih penting (apalagi bagi kelompok tradisional) sehingga untuk pengetahuan tidak bebas dipaparkan jika dilihat secara aksiologi tidak memberikan faedah atau nilai yang positif untuk masyarakat.
Persolan lain tentang aksiologi ialah budaya atau sikap bangsa asing yang perlu disaring, termasuk yang ditampilkan melalui film, baik film laga maupun tayangan-tayangan kartun tentunya sangat merusak karakter generasi bangsa jika tidak mampu menyaring informasi atau nilai yang beriringan dengan film tersebut. Pembicara pertama menegaskan bahwa “jangan-jangan film-film karya Barat merupakan doktrin pengetahuan untuk penjajahan karakter mengingat pesan-pesan serta dialektika yang dibawakan oleh film-film” dalam tuturnya. Tentunya sasarannya adalah agar bangsa ini mudah dikuasai Ekonominya. Pembahasan oleh pemateri pertama sesunggunya lumayan panjang namun tulisan ini dibatasi karena fokusnya adalah pengaruh media terhadap pembentukan karakter dan selebihnya dua pembicara masing-masing memiliki uraian yang berbeda tentang aksiologi, namun fokusnya tetap pada penanaman nilai-nilai oleh kelompok Neolib.
Pembicara kedua memfokuskan pembahasannya pada bahaya film kartun seperti Spongebob, Tom & Jerry, Chincan dan lain-lain yang sengaja diproduksi oleh kelompok Neolib untuk merusak karakter generasi bangsa. Watak yang diperankan oleh film kartun tersebut semuanya bertentangan dengan karakter dasar yang ada di Negeri ini, kata pembicara kedua. Karakter tokoh atau aktor film tersebut akan dipaparkan berikut.

Pembicara ke-dua ini memulai pembicaraannya melalui kritik terhadap 3 film kartun favorit untuk anak-anak maupun remaja yaitu Shinchan, Tom and Jerry serta Spongebob. Shincan dinilai tidak beretika karena perilakunya yang tidak sopan terhadap orang tua serta suka terhadap pornografi. Jika ini disaksikan oleh anak-anak, maka perilakunya akan mendapat pengaruh oleh kebiasaan aktor yang ditontonnya. Begitupun Tom & Jerry yang menampilkan kekerasan serta mengubah pola mindset anak-anak bahwa yang jahat sebetulnya adalah kucing sementara tikus adalah pahlawan yang telah menciptakan suasana damai dalam komunitasnya. Tentunya ini berbeda dengan realitas di Dunia nyata bahwa sesunggunya yang merusak adalah Tikus dan biarlah kucing membasmi tikus yang merusak tatanan hidup manusia, baik tikus secara symbol maupun tikus secara nyata.
Untuk Spongebob, Pembicara bahkan mengurai lebih jauh watak yang diperankan oleh masing-masing tokoh dan semuanya bertentangan dengan etika dan norma yang berlaku di Indonesia. Pemeran Utama adalah Spongebob, tokoh ini dinilai oleh pembicara sebagai tokoh yang hidupnya hanya untuk menjadi bawahan (anggota yang selalu ingin diperintah untuk melakukan sesuatu) oleh kaum pengusaha dan pemodal dan mengikhlaskan hidupnya untuk mengabdi sepanjang usianya meskipun dengan gaji yang rendah atau bahkan tidak mendapatkan Upah. Spongebob ini sebenarnya memiliki kekuatan dan kreativitas yang memadai untuk bangkit karena potensi yang dimilikinya lumayan baik untuk membangun usaha sendiri namun karena ia bodoh “karena rela dipekerjakan meskipun tanpa upah”, ia juga tidak menyadari kalau dirinya (Spongebob) diperebutkan oleh dua pengusaha besar karena potensinya. Saya kira karakter Indonesia sudah banyak yang lebai seperti yang ditayangkan pada film Spongebob.
Tokoh lain yang sering hadir pada Film Spongebob SqwarePants adalah Squidward, Patrick, Krabs, Plankton, Shandi, Gary dan lain-lain juga menampilan karakter yang berbeda. Petrik misalnya adalah sahabat spongebob yang sangat bodoh namun karena kesetiaannya sehingga ia dianggap baik, padahal sejatinya kesetiaan hanya boleh dilakukan untuk tujuan kebaikan. Anehnya adalah, petrik rela dengan ketulusan dan kesetiaannya melihat spongebob diperdaya oleh Krab di CrustyCrab tempat ia bekerja. Tokoh lain, seperti Shandy menampilkan karakter yang maskulin meskipun sebenaarnya dia adalah peminin sementara spongebob dan patrik yang sebenarnya adalah maskulin bersifat seperti peminin dan inilah yang akan ditiru oleh generasi, terlebih lagi yang suka dengan tayangan terfavorit tersebut, yaitu spongebob.
Seperti inilah kelompok neoliberalis melakukan pembusukan karakter terhadap bangsa ini. Tentunya dengan keadaan seperti ini, mereka akan lebih mudah menjajah bangsa ini karena karakter serta mindset generasi muda di negeri ini telah dikondisikan jauh sebelumnya.

No comments:

Post a Comment

شُكْرًا كَثِرًا
Mohon titip Komentarnya yah!!
وَالسَّلامُ عَليْكُم