Monday, 20 August 2012

Cerita Unik Soal Nikah (Versi Pria)

Hingga 1 syawal, tema yang paling sering diperbincangkan oleh pemuda Desa adalah tentang pernikahan saat ada kegiatan ngumpul. Mungkin karena yang mulai angkat bicara adalah kaum pemuda yang belum nikah sehingga tema ini menjadi serius dan selalu diperbincangkan.
Meski sesekali ada yang telah nikah ikut dalam perbincangan namun alur pembicaraan juga cenderung ikut dengan forum. “Ternyata banyak hal unik terkait dengan pernikahan”, itu kata mereka yang telah nikah, sementara yang belum nikah juga memiliki imajinasi ektra tinggi tentang hubungan pernikahan. Beberapa hal yang menjadi perbincangan dalam forum tersebut akan di uraikan berikut:
Catatan pertama adalah tentang rasa. Seorang dari forum mengatakan, tidak usah berbagi tentang cara dan rasa karena nantinya akan ada ekspresi dan cara masing-masing dalam bergaul (bercinta suami istri). “Mengatur posisi dan gaya bercinta itu akan muncul dan menghidupkan suasana dengan sendirinya bila nanti anda telah menikah”, itu kata teman saya yang ikut meramaikan acara ngumpul tersebut. Masih hal terkait, seorang teman lain bertutur “Enak sekali rasanya”, lalu dia lanjutkan dengan sebuah pesan “jangan coba bila belum mampu bertanggung jawab. Penekanan bahasanya yang mengatakan “enaaaaa…k sekaaaali ……….” Telah memberikan gambaran yang super. Enaknya seperti apa? Saya juga belum tau tapi setidaknya saya punya imajinasi tentang hal tersebut. ada juga yang mengatakan “pertama kali rasakan itu, terasa hingga seminggu enaknya.
Catatan kedua adalah tentang beban moral dan tanggung jawab. Dalam forum tersebut, Juga ada yang mengatakan berat karena harus memikul tanggung jawab dan beban moral. Hal tersebut memang dibenarkan oleh budaya, namun berat tentunya jika pekerjaan belum mapan lantas hasrat untuk menikah telah ada. Istilah yang populer adalah “jika menikah tanpa kerja, apakah kalian tega memberi makan anak dan istri anda pake batu?” tentu anda tidak tega. Teori tersebut ternyata dibantah oleh orang yang berpengalaman. Anti tesa yang lahir adalah “Tentang tanggung jawab, kata orag yang berpengalaman (telah menjalani ikatan pernikahan) bahwa tanggaung jawab dan semangat untuk kerja itu akan lahir dengan sendirinya, begitupun rejeki akan ada dari Tuhan”. Untuk bahasan ini, sama sekali saya tidak punya komentar dan hanya bisa membenarkan ungkapan mereka semua.
Soal memilih pasangan juga menjadi pembahasan, ini catatan ketiga. Kebetulan di Desa kami lumayan mahal untuk mempersiapkan biaya pernikahan. Untuk keluarga sederhana saja, minimal harus mempersiapkan Rp. 25 Juta untuk membiayai acara mempelai wanita, belum lagi biaya untuk keluarga mempelai pria. Mungkin bisa dihitung secara total sekitar Rp. 50 Juta untuk keluarga sederhana. Dari pembahasan ini, muncul beberapa kesan negatif antara lain, kalau ingin menikah, carilah diperantauan agar tidak terlalu terkendala dalam hal biaya pernikahan, dengan nada bercanda, beberapa pemuda yang menikah diperantauan sengaja disinggung, maksudnya tidak menjatuhkan tapi ingin memberi semangat untuk menjadi lebih baik. Kesan lain yang agak serupa adalah memilih pasangan dari keluarga tajir agar bisa mewariskan kekayaan keluarga wanita. Dalam forum ini, ada juga yang memberi pandangan lain, katanya dibayar mahal itu dilakukan agar “menganggap” apa yang telah dikorbankan tidak akan disia-siakan. Ini pula yang mengikat orang untuk tetap setia hingga ajal menjemput.
Beberapa embel-embel yang mesti dipertimbangkan dalam memilih pasangan hidup juga penting. Ini bahasa saya, tapi masalah ini juga tidak lepas dari perbincangan di forum yang bebas dan lepas itu. Kata teman-teman, memilih pasangan itu harus melihat Usia pasangan, Pendidikan, Pekerjaan, Postur tubuh dan sebagainya. Ini tentunya sedikit berbeda dengan sunnah Rasul tapi untuk dikampung memang mesti dipertimbangkan mengingat tuntutan budaya yang demikian kompleks. Imajinasi ini dilontarkan oleh teman-teman forum versi pribadi masing-masing. Tapi yang saya akan bahasakan disini adalah versi yang lebih banyak diminati forum. Bahasannya seperti apa? Ternyata saya menemukan diantara pemuda ingin body yang aduhai, bukan sekedar dipandang dan dirasa tetapi yang membuat kita selalu teringat padanya adalah ketika membayangkan body empuk dan sejuk dipandang. Mempertimbangkan usia pasangan juga harus memiliki hitungan yang detail, pasalnya adalah soal percaya diri dan keharmonisan rumah tangga, kata seorang teman yang barusan bicara pada kesempatan lain dan di forum yang berbeda. Selebihnya, memilih pasangan mesti mempertimbangkan pendidikan dan pekerjaannya. Bukan berarti mencari wanita yang berpendidikan tinggi sementara pria hanya memiliki pendidikan dasar. Kata salah satu teman, sejatinya keseimbangan yang diutamakan!, baik usia, pendidikan, pekerjaan dan sebagainya.
Pandangan pribadi adalah, memutuskan untuk nikah itu butuh pertimbangan karena menikah tidak hanya sebagai jalan untuk menyalurkan nafsu duniawi tapi untuk membangun hubungan keluarga yang sakinah, mawaddah wa rahmah, tentunya jalan ini harus berpedoman sesuai dengan Al-Qur’an, As-Sunnah dan sesuai dengan budaya (norma yang berlaku). Bahasa sederhanya adalah memilih sesuatu itu harus dengan yang benar-benar pas untuk anda.

No comments:

Post a Comment

شُكْرًا كَثِرًا
Mohon titip Komentarnya yah!!
وَالسَّلامُ عَليْكُم