Saturday, 4 August 2012

Kembali pada Sunnatullah yang tepat

Ketika orang-orang tidak lagi mematuhi hukum alam, mencampakkan aturan agama serta tidak lagi berlaku sesuai norma adat dan budaya yang dipegang teguh oleh suatu masyarakat berkat nilai kearifan yang menyertai kebudayaan tersebut, maka hukum akan membentuk suatu tatanan baru.
Kejadian di bumi ini memang terbentuk oleh Sunnatullah, ketetapan Allah atau Hukum alam namun manusia berperan mempertahankan sosio kultur atau tatanan kehidupan serta keseimbangan alam agar tetap berjalan dengan harmonis dan berimbang. Akibat ulah manusia pula, kerusakan alam dan tatanan masyarakat akan mengalami kehancuran.
Kalau kita melihat masalah yang terjadi saat ini, sepertinya alam tidak lagi bersahabat dengan kita. Udara panas terasa seakan menghanguskan bumi ini, kemarau berkepanjangan melanda, banjir yang tidak bisa dikendalikan dan lain-lain. Lebih dari itu, masalah sosial juga terjadi yaitu perebutan kekuasaan, kebiasaan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan serta menjadikan uang sebagai panutan. Masalah alam dan sosial sebagaimana digambarkan di atas tentunya dilatarbelangi oleh ulah manusia yang banyak melanggar Sunnatullah.
Keresahan yang melanda umat manusia memang tidak hanya soal krisis ekonomi, bencana alam, tetapi juga ancaman manusia yang bisa jadi karena persaingan atau musuh. Persoalan alam, misalnya bagi seorang petani. Saat ini, cuaca sulit diperkirakan, apakah akan bersahabat untuk petani jika bercocok tanam dengan tanaman tertentu atau tidak. Akibatnya ialah, kerapkali petani gagal panen akibat kekeringan atau justru dilanda banjir, belum lagi soal hama yang juga menyerang lahan pertanian. Permasalahan ini pula akan mempengaruhi kerisis ekonomi dan interaksi sosial. Krisis ekonomi juga yang (salah satunya) dilatarbelakangi oleh ketidakmampuan manusia mengendalikan sumber daya alam akan mempengaruhi tatan masyarakat sehingga interaksi sosial tidak berimbang. Masalah sosial inilah yang sebenarnya akan mempengaruhi seluruh aspek disiplin gerak manusia, baik sosio kultural, sosial politik, ekonomi politik serta kerusakan alam. Lingkaran setan yang saling berpengaruh ini memang harus diselesaikan dengan kembali pada Allah, Rasul-Nya serta Ulama yang berpegang teguh pada Al-Qur’an dan Sunnah nabi
Terjemahan Ayat Al-Qur’an Surat Ar-Rum ( 30 : 41 ) versi Al-Qur’an Digital berbunyi “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”
Kerusakan di darat dan di laut merupakan manifestasi dari alam secara keseluruhan, baik laut, darat maupun udara dari segi fisik sedangkan secara sosial adalah kerusakan pola hidup masyarakat sehingga mengakibatkan banyak orang yang merasa terganggu. Baik sosial maupun alam yang rusak, sama-sama mengakibatkan suasana yang kurang baik atau tidak nyaman, olehnya itu ayat tersebut ditutup dengan “agar mereka kebali (ke jalan yang benar)”. Kalau kita mengartikan potongan ayat ini, berarti Manusia dilarang melakukan pengrusakan alam dan (karena kerusakan itu telah dilakukan, maka manusia harus) kembali pada aturan-aturan yang telah ditetapkan oleh Allah, baik aturan alam maupun aturan tertulis sebagaimana tertuang dalam al-Qur’an.


Catatan kecil seorang Petani
Abdul Haris Mubarak

No comments:

Post a Comment

شُكْرًا كَثِرًا
Mohon titip Komentarnya yah!!
وَالسَّلامُ عَليْكُم