Thursday, 22 November 2012

Tidak Ingin Merasakan Perihnya Putus Cinta


Pahit manis yang dilalui sekian tahun lamanya tiba-tiba harus berakhir tragis. Romantika hidup yang telah lama dibangun harus berakhir sekejap dengan kebencian yang mendalam. Perasaan piluh itu bisa melanda siapa saja yang mencoba melakukan hal yang sama yaitu “berpacaran”.

Laksana Petir menyambar jagat raya disiang bolong, tanpa hujan dan tanpa mendung. Serasa samudra mengering ketika itu terjadi, Air mata menetes menahan piluh, makan tak enak, tidur tak nyenyak, dunia terasa hampa dan Lebih baik mati saja dari pada harus menderita ditinggal kekasih.
Bahasa di atas mengurai “putus cinta versi rasa”. Berikut ini juga akan di urai sedikit “putus cinta versi rasio”. Pernyataannya adalah “Jika putus cinta itu terpaksa harus terjadi, sejatinya harus disyukuri. Itu karena alasan logis bahwa putus cinta berarti telah terjadi ketidak-cocokan (kedua pihak, lingkungan atau keluarga), ketidak-nyamanan, atau tidak lagi sejalan dengan komitmen awal membangun hubungan cinta. Dengan demikian, kemungkinan besar akan kacau jika itu sampai berlanjut kepelaminan. Secara sadar, Allah selalu memberikan yang terbaik untuk hambahnya, termasuk jodoh. Dengan demikian, harus diyakini bahwa jodoh kita bukan dia “yang barusan berakhir” tapi orang yang lebih baik dari dia.
Sebetulnya pacaran itu berangkat dari pertemuan dua insan, lalu kedua insan tersebut menemukan kenyamanan saat bersama. Perasaan nyaman ketika bersama tersebut kemudian dibangun suatu komitmen untuk hubungan spesial, yang disebut ikatan cinta atau pacaran. Sebenarnya, bukan komitmen yang penting dalam pacaran karena bukan itu yang menjadi inti sebuah jalinan kasih sayang. Justru yang menjadi inti adalah “kenyamanan” saat bersama, dan ketika kenyamanan saat bersama itu sudah memudar, berarti saatnya untuk mengoreksi diri masing-masing, terlebih ketika kenyamanan itu telah hilang atau justru yang mendominasi adalah percekcokan, maka mengakhiri hubungan dalam pacaran adalah lebih baik.
Satu hal lagi yang dianggap penting, yaitu jika kita sepakat bahwa tujuan pacaran[1] itu adalah mencari dan menemukan kecocokan, juga sepakat bahwa pacaran itu bukan arena untuk memaksakan diri larut dalam tekanan rasa[2], maka seseorag akan selalu bahagia dalam hidupnya.  Dengan demikian, Hal positif yang diperoleh dari konsep diatas adalah :
1.       Mengurangi rasa sakit hati yang berlebihan jika cintanya harus kandas di tengah jalan,
2.       Kedua insan cenderung ingin menjadi yang terbaik untuk pasangan cintanya dan tanpa harus mengharapkan balasan cinta. Itulah cinta sejati yang tulus!,
3.       Putus cinta tidak menjadikan seseorang benci pada mantan kekasihnya, justru yang ada adalah rasa terima kasih karena telah memberikan warna dan arti hidup dan kasih sayang dari sidia.



[1] Pacaran secara umum diasumsikan sebagai hubungan asmara kedua insan dengan tujuan persamaan karakter oleh masing-masing pasanan. Dengan demikian, tujuan pacaran sesungguhnya adalah mencari kecocokan dan kenyamanan saat bersama lalu kenayamanan dan kecocokan itu diikan dengan hubungan yang lebih serius.
[2] Merasa bahwa pacar adalah segalanya sehingga apapun yang “sidia” inginkan harus dilakukan.

No comments:

Post a Comment

شُكْرًا كَثِرًا
Mohon titip Komentarnya yah!!
وَالسَّلامُ عَليْكُم