Skip to main content

Fiqhi Sosial - Syarat Taqwa


 
133.  Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa,

134.  (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema'afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.

Khatib di Mesjid Babul Jannah Manuruki Makassar mengangkat tema khutbah adalah “orang-orang yang bertaqwa”, ayat di atas yang dijadikan rujukan/syarat seseorang yang memiliki ketaqwaan: pointnya antara lain:
Ayat di atas dalam tinjauan kontemporer disebut sebagai fiqhi sosial, yaitu fokus agama pada permasalahan-permasalahan sosial. Agama menurut pandangan awam memang hanya mengurus persoalan ritual atau ibadah khusus kepada Allah. Fokus agama dalam pandangan awam tentang ritual Islam adalah hablum minAllah sedang hablum manannas dianggap syarat kedua sebagai pelengkap ibadah.
Ayat di atas justru menempatkan hablum minnas sangat penting dan utama dalam mengukur tingkat ketaqwaan seseorang. Pada ayat 133 yang terjemahnya adalah “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa”[1]. Kemudian pada ayat 134 dijelaskan syarat-syarat orang yang bertaqwa antara lain :
1.   Orang yang menafkahkan hartanya diwaktu lapang maupun diwaktu sempit
2.  Orang menahan amarahnya
3.  Orang yang memaafkan kesahalah orang
4.  Orang yang berbuat kebajikan
5.  Berdzikir mengingat Allah dan memohon pengampunan
Sangat jelas bahwa syarat di atas merupakan bentuk ibadah Hablum minannas. Infaq merupakan urusan sosial sebagaimana tujuan sedekah untuk kepentingan sosial.[2] Lalu point kedua sampai point keempat merupakan perbaikan hubungan sosial. Syarat yang kelima baru menyentuh point hablum manAllah.
Kesimpulannya, orang yang bertaqwa adalah orang yang baik hubungan sosialnya berdasarkan tuntunan al-Qur’an (Fiqhi Sosial) dan selalu mengingat Allah serta memohon pengampunan dari-Nya.



[1] Ayat dan terjemah ayat bersumber dari al-Qur’an in Affice. Hal ini memungkinkan ada ketidak-samaan dalam terjemahan.
[2] Lihat Q.S. Al-Mujaadilah (58 : 13 ) atau tujuan Zakat pada Q.S. At-Taubah (9 : 60)

Comments

Popular posts from this blog

Kedudukan Ar-ra'yu sebagai Landasan Hukum Islam

Referensi Pada dasarnya umat Islam yang beriman Kepada Allah swt. Meyakini bahwa Sumber utama Ajaran Islam yaitu Alquran dan Hadis sudah sempurna. Firman Allah dalam Alquran sudah sempurna membahas aturan-aturan, hukum, ilmu pengetahuan (filsafat), kisah, ushul fiqh dan lain-lain. Begitu juga Hadis Rasulullah yang salah satu sifatnya menjadi penjelasan ayat-ayat dalam Alquran. Posisi Hadis adalah penjelas dan sumber kedua setelah Alquran.

Hakikat Psikologi Pendidikan

HAKEKAT PSIKOLOGI PENDIDIKAN Oleh : Abdul Haris Mubarak Mukrim I.               PENDAHULUAN A.     Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan salah satu kebutuhan pokok dalam kehidupan manusia yang berfikir bagaimana menjalani kehidupan dunia ini dalam rangka mempertahankan hidup dalam hidup dan penghidupan manusia yang mengemban tugas dari Sang Kholiq untuk beribadah.

Sejam Ngobrol Tauhid dengan Kecerdasan Buatan. Pengalaman yang luar biasa

  temani saya ngobrol ya. Saya meminta Robot AI berdialog. Robot Cerdas Buatan:: Tentu! Mau ngobrolin apa nih? Lagi ada yang dipikirin atau pengen santai aja? Abdul Haris Mubarak:: tentang tauhid. apakah anda sanggup? Robot Cerdas Buatan:: Tentu, saya siap! Tauhid adalah inti keimanan dalam Islam — keyakinan bahwa hanya ada satu Tuhan, yaitu Allah, yang Esa dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Dalam konsep ini, tauhid terbagi jadi tiga bagian utama: Tauhid Rububiyah — meyakini bahwa Allah adalah satu-satunya Pencipta, Pemelihara, dan Pengatur seluruh alam semesta. Tauhid Uluhiyah — hanya Allah yang berhak diibadahi, semua bentuk ibadah seperti doa, shalat, dan tawakal hanya ditujukan kepada-Nya. Tauhid Asma' wa Sifat — meyakini dan mengimani nama-nama Allah (Asmaul Husna) serta sifat-sifat-Nya yang sempurna, sesuai dengan apa yang dijelaskan dalam Al-Qur'an dan hadits tanpa menyerupai makhluk. Menurutmu, bagian mana dari ...