Friday, 14 December 2012

Suara Rakyat di Angkot


Siang itu, suasana cukup sesak. Rasa panas bukan karena terik matahari yang menyinari para pengguna jalan. Keluh itu nampak pada sebagian besar pengguna jalan yang melintas di Jalan Sultan Alauddin Makassar. Suasana sesak disebabkan aksi demonstrasi mahasiswa membuat para pangguna jalan merasa kesal dan sesekali terdengar keluh tertuju pada mereka yang berdemo.

“Semoga kalian dilumpukan oleh pihak keamanan” suara di seberang sana terdengar agak samar. Sepertinya itu suara supir angkot yang merasa pekerjaannya terganggu.
“Aku masih lebih percaya pada mahasiswa” sahut lelaki tua tiba-tiba membuka dialog pada angkutan umum yang juga ditumpangi oleh Khalil. Maksud orang tua itu berbicara karena ingin mengomentari suara yang barusan didengarnya diseberang sana.
Tidak ada yang mengomentari suara lelaki tua itu. Suasana jadi hening. Nampak kekesalan seorang ibu yang usianya belum terlalu tua menyaksikan demo mahasiswa yang membuat urusannya jadi terbengkalai. Jiwanya meronta seolah mengaminkan do’a yang juga didengarnya dari seberang.
“Mendingan mahasiswa dari pada DPR!” kembali lelaki tua itu menyeru para penumpag yang tidak dikenalnya. “mahasiswa berjuang atas nama rakyat dan itu merupakan aspirasi murni. Sedangkan DPR hanya bekerja untuk memenuhi kantong mereka dan membayar utang politik. Mereka bekerja dikendalikan oleh kelompok” Lanjutnya.
Tidak ada komentar. Reaksi penumpang dalam sesaknya suasana itu lebih banyak yang Marah karena urusannya terganggu. Khalil yang juga ada pada Angkot itu sebetulnya ingin mengiyakan tutur lelaki tua itu. Ia sepakat namun tidak berani berkomentar ditengah amarah para penumpang. Sikapnya hanya diam mengangguk.
Setelah suasana di angkot hening beberapa jenak, mata seorang ibu yang usianya terbilang masih muda tertuju pada wartawan yang asyik meliput mahasiswa berdemo. Muncullah ide dibenaknya kemudian dilemparkan untuk menanggapi celoteh lelaki tua itu yang duduk di depannya.
“Wartawan itu akan mewakili aspirasi rakyat!” serunya penuh keyakinan.
“Betul bu” kata penumpang lainnya.
“Tapi apa yang mau deberitakan kalau tidak ada demo?” protes lelaki tua yang duduk di bagian depan.
“Setidaknya jangan mengganggu kenyamanan masyarakat dong!” tutur ibu muda itu yang kembali mengelak yang penuh amarah di hatinya.
“sejatinya memang harus begitu bu!” terdiam sejenak dan suasana kembali hening. Lalu lelaki tua itu melanjutkan “tapi media juga tidak akan mau meliput berita yang biasa-biasa saja”.
“betul pak! Pengalaman kami memang seperti itu, media tidak meliput kami jika aksi kami damai, pemerintah juga tidak mau mendengarkan aspirasi kami dengan cara-cara damai” seru Khalil yang mulai menampakkan identitasnya sebagai mahasiswa yang terbiasa demo. Dibenaknya bertutur serius “Memang mahasiswa melakukan demo anarkis itu adalah jalan terakhir dalam artian terpaksa. Lagian anarkis bukan hanya dari mahasiswa saja tetapi gesekan keamanan yang seringkali memaksa tindak anarkis itu”.
“bukan soal anarkis atau tidak, tapi jangan merusak fasilitas umum dan mengganggu keretiban masyarakat” Ibu itu kembali bicara dengan nada yang kesal.
Khalil sebagai mahasiswa yang terbiasa demo memperjuangkan kepentingan rakyat sebenarnya tau amarah warga. Ia pun harus menahan amarah ketika ia sebagai demonstran terganggu, tapi khalil paham bahwa cara yang terbaik agar suara didengar pemerintah adalah berteriah di jalan, bahkan mengamuk kalau perlu. Baginya, media massa tidak begitu baik mengangkat aspirasi rakyat. Itu karena media massa Tidak berbicara apa adanya tapi yang dibicarakan adalah seperlunya saja. Tentunya itu adalah kepentingan media.
Media massa tidak suka aspirasi yang kosong atau sekedar bicara tanpa sesuatu yang heboh. Itu karena prinsip media bahwa berita yang baik adalah yang unik atau menggelitik. Media juga sangat mendukung aksi demonstrasi yang besar, lebih suka lagi jika sampai terjadi bentrok karena beritanya jadi penting dan sangat mahal. Itulah kepentingan media.
“turun ke jalan menyuarakan aspirasi rakyat masih jauh lebih baik dari pada berdemo ala teroris” pernyataan Khalil berusaha menenagkan ibu disampingnya yang masih terlihat kesal.
Sebetulnya Khalil juga punya kepentingan yang sama dengan penumpang lainnya, mereka semuanya diburu waktu untuk segera menyelesaikan tugas diluar sana. Tapi bagi Khalil kepentingan umum lebih utama dibanding kepentingan pribadi.
“Mahasiswa itu berdemo atas aspirasi rakyat” tutur lelaki tua lalu memberikan penjelasan “orang akan marah ketika haknya diganggu oleh orang lain. contohnya adalah kasus sengketa tanah. Tanpa dipandu untuk protes/demo pun mereka akan menurunkan massa. Contoh lain adalah siswa SD yang sering ditayangkan di TV ternyata juga mereka menuntut hak sebagai siswa”. Suasana diam, lelaki tua itu kembali melanjutkan “hewan pun akan marah ketika merasa terganggu, hewanpun berdemo”. Tuturnya terus membela mahasiswa seoleh ingin membahasakan bahwa “mahasiswalah yang selama ini memperjuagkan aspirasi rakyat, bukan anggota Dewan”.
Ibu yang dihatinya penuh amarah itu diam dan sedikit mengerti maksud lelaki tua itu. Pahamlah ia bahwa yang dilakukan oleh mahasiswa selama ini sesungguhnya sangat mulia. Hanya masih tersisa sedikit kekesalan yang dengan cara-nya yang harus mengganggu kenyamanan hidup bermasyarakat, khususnya kenyamanan di jalan raya.
Berbicara soal solusi mengatasi demo sebetulnya sudah sangat sering diperbincangkan. Bahkan seluruh elemen masyarakat dari berbagai lapisan diminta untuk menemukan solusi agar aksi anarkis para pendemo bisa ditekan.
“Siapa yang mau mendengan mereka yang berteriak di jalan?, toh orang pada cuek dan kesal dengan ulah mereka” ibu muda yang belum puas berdialog itu kembali melanjutkan pembicaraan.
“Bukan suaranya yang utama, mengamuk dulu yang penting untuk mendapat perhatian dari media, keamanan dan pemerintah lalu menyuarakan aspirasi” kata lelaki tua yang tidak pernah memberik kesempatan ibu muda itu berkeluh kesah.
“Sebetulnya aspirasi dulu pak yang disuarakan!” komentar Khalil membetulkan pernyataan lelaki tua itu. “Sebelum turun aksi, harus ada analisis wacana tentang fenomena atau kebijakan timpang yang dilakukan oleh pemegang kebijakan. Dari kebijakan tersebut, dimintalah tanggapan seluruh peserta rapat untuk menyikapi fenomena tersebut. Jika harus ditindaklanjuti dengan demo, maka persiapan selanjutnya adalah menghubungi pihak keamanan dan intel serta media massa untuk membantu mahasiswa menjalankan aksinya”, tegas Khalil untuk menenangkan suasana dan meluruskan pembicaraan.
“Kalau prosesnya sebaik itu, mengapa harus tercipta bentrok yang merugikan banyak orang?” Kata Ibu muda itu yang selalu protes.
“bentrok itu tidak terencana, hanya saja pancingan untuk bentrok sering menunggangi para demonstran” jawab khalil berusaha menenangkan emosi ibu muda itu.
Sepertinya sulit menjelaskan persoalan ini pada ibu-ibu yang cerewetnya minta ampun. Masing-masing orang punya cara yang berbeda untuk menyelesaikan persoalan, termasuk soal menyuarakan aspirasi. Di Negara yang menggunakan sistem pemerintahan demokrasi memang mengizinkan rakyatnya untuk demo. Tentu dasar demonstrasi itu berangkat dari issue hak asasi manusia yang dijunjung tinggi pada sistem pemerintahan demokrasi.
Di Amerika juga sering terjadi protes oleh rakyatnya akibat kebijakan pemerintah yang dinilai timpang. Tentu protes itu dibolekan karena alasan Hak Asasi Manusia. Berbeda dengan negara-negara yang monarki absolut atau yang dipimpin oleh seorang raja, peluang untuk Demo lebih kecil karena seolah pemilik negara adalah seorang raja.
Mengertilah semua penumpag di angkot itu lewat perbincangan singkat tentang demo. Semuanya terlihat sadar, namun ego itu tidak akan pernah sirna. Semuanya ingin mendapatkan yang terbaik meski tanpa perjuangan.

No comments:

Post a Comment

شُكْرًا كَثِرًا
Mohon titip Komentarnya yah!!
وَالسَّلامُ عَليْكُم