Friday, 4 January 2013

Musim Mengeluh


Banyak yang mengeluh soal hujan yang menyebabkan banjir. Wajar, penulis pun selalu mengeluh (tapi sebaik-baik keluhan adalah mengeluh dan kembali pada Allah swt). Apalagi saat ini marak terjadi musibah yang semakin marak menambah daftar orang mengeluh. Tipologi musibah yang sering dikeluhkan sebagian besar umat manusia adalah sebagai berikut: Penduduk kota merasa terkena musibah akibat rumah mereka terendam banjir.

Ø  Pejalan kaki, pengguna kendaraan bermotor, atau para pekerja lapangan merasa terganggu oleh hujan yang menghalangi aktivitas mereka.
Ø  Petani merasa mendapat bencana ketika sawah mereka tergenang air akibat banjir.
Ø  Banyak orang yang mengeluh tanah becek, jalan berlumpur, got meluap dan ketika musim kemarau tiba, mereka masih merasa tertimpah musibah.

Jangan sedih!, Lihat dan Pikirkanlah manfaatnya.
(Jika itu terjadi) maka kemungkinan besar bentuknya seperti berikut ini :
1.   Ujian, Orang yang imannya kuat, rajin beribadah, bersedekah, baik hubungan sosialnya, merawat alam dan sebagainya tidak menjamin akan luput dari musibah. Boleh jadi musibah itu sifatnya untuk menguji orang-orang yang beriman untuk mengetahui kadar keimanannya. Jika mereka berhasil menghadapi cobaan tersebut, maka yang didapatnya adalah suatu rahmat dan keberkatan. Itulah buah dari kesyukuran.
2.  Musibah, orang-orang yang terkena musibah atau bencana tidak selalu berarti buruk. Dibalik musibah, kita bisa belajar tentang pentingnya kehati-hatian, ketelitian, perawatan alam, merenung tentang kebesaran tuhan, do’a keselamatan, saling berpesan tentang taqwa maupun saling berpesan tentang kesabaran.
3.  Teguran, sang pencipta tidak memberikan teguran cecara lisan pada manusia, tapi teguran itu sering kali diberikan dalam bentuk bencana, kehilangan, kelaparan dan hal-hal lain yang membuat perasaan tidak karuan. Olehnya itu, ketika bencana terjadi, sebaiknya kita bertaubat dan kembali kepada Allah karena bencana itu terjadi akibat tangan-tangan jahil manusia. Pikirkanlah!

Bukan hanya hujan atau kemarau yang bisa mengamuk untuk mensucikan suatu tempat (yang dihuni oleh tangan-tangan jahil) tapi alam pun akan bekerja secara otomatis (dalam bahasa biologi disebut sebagai seleksi alam) untuk kembali normal, senada dengan pandangan secara spiritual “api yang kecil, air sekadarnya, tanah yang lapang, udara yang kita hirup semuanya bermanfaat untuk kebutuhan sehari-hari kita, namun sijago merah yang mengamuk, banjir bandang, tsunami, tanah lonsor, bencana putting beliung merupakan unsur pencucian tempat tertentu dari maksiat.

Sebagai catatan penutup, penulis ingin menyampaikan pesan dari guru spiritual Bung Haris yaitu “tidak ada sakit, musibah maupun bencana melainkan manusia sendiri yang mengundangnya datang”.

Semoga Allah swt., Sang Pencipta tidak menimpahkan bencana kepada kita semua. Semoga Allah memberikan keselamatan, keberkatan, rahmat dan rezeki yang mampu kita pertanggungjawabkan dan kita syukuri.
Amin yaa rabbal ‘alamin.

6 comments:

  1. Manusia Memang adalah makhluk yang selalu mengeluh,
    itu adalah salah satu ciri dan perbedaan yang membedaan makhluk - makhluk Allah Lainnya.

    itu dari saya...

    Hehehe...

    ReplyDelete
  2. yang penting mereka tau alasan mengeluh apa, kepada siapa harus mengeluh, bagaimana mengatasi keluhan serta tau hikmah dibalik sesuatu yang sering dikeluhkan.

    bukankah seperti itu jawabannya komandan?

    ReplyDelete
  3. Kali ini saya coba Copy jawaban Abang...
    betul betul betul

    sepakat dan sepakat

    ReplyDelete
  4. Alam butuh keseimbangan. jadi kalau manusia butuh keseimbangan, jangan buat alam bimbang tapi seimbangkanlah. begitu menurut saya bung

    ReplyDelete

شُكْرًا كَثِرًا
Mohon titip Komentarnya yah!!
وَالسَّلامُ عَليْكُم