Thursday, 28 March 2013

TIK dan Budaya Lokal


Oleh : Abdul Haris Mubarak
Budaya di Sulawesi “Sirik na Pacce” merupakan konsep akhlak dan mental orang Bugis Makassar. Pada awalnya, bahkan hingga 20 tahun terakhir, budaya Sirik na Pacce masih kental di Sulawesi Selatan. Kata “sirik” bisa memiliki banyak makna, antara lain malu jika berbuat salah, berani menegakkan kebenaran dan menumpas kebatilan, saling menghargai dan banyak lagi. Namun secara laterlate, istilah sirik dapat diartikan “malu” dalam kehidupan sehari-hari. Adapun istilah Pacce[1] atau Pesse[2] diartikan “Pedis” dalam bahasa sehari-hari orang Sulawesi Selatan. Makna Pacce juga sangat luas yang bisa berarti “sangat pahit atau pedih jika dikhianati”. Sirik Na Pacce telah menyatu dalam jiwa dan raga masyarakat Sulawesi Selatan hingga munculnya dunia baru yang lebih dikenal dengan jaman teknologi informasi dan komunikasi (TIK). Zaman TIK telah mengantar manusia menuju konsep hidup baru yaitu penyatuan budaya-budaya dunia serta nilai-nilai yang terkandung didalamnya.

Budaya sirik na pacce saat ini masih menyimpan benih bagi gerenasi bangsa Bugis dan Makassar di Sulawesi Selatan maupun bangsanya di perantauan. Namun tidak bisa dipungkiri bahwa pergeseran waktu telah mengikis nilai-nilai budaya lokal sehingga yang tersisa semakin menipis dan samar oleh hantaman Multikulturalisme yang telah mewabah sejak zaman teknologi infomasi dan komunikasi mengalami perkembangan pesat. Salah satu bentuk mental atau akhlak Bugis Makassar yang bergeser adalah model perkawinan cengan cara kekeluargaan menjadi sistem monopoli. pada masanya, orang tua (keluarga besar) yang menawarkan calon pasangan terhadap anak. Selanjutnya anak berhak memberikan pertimbangan terhadap orang tua. Lalu muncul zaman baru ketika dunia pacaran populer, pada masa ini anak yang menawarkan calon (istri/suami) pada orang tua sementara orang tua memberikan pertimbangan berdasarkan pengalaman mereka dalam memilih pasangan hidup maupun membangun rumah tangga.
Sebetulnya, budaya manusia telah membentuk masing-masing karakter individual. Bahkan kemajuan zaman yang banyak mempengaruhi tingkah laku manusia yang menuntut cara-cara instan tidak selalu baik. Sangat disayangkan jika identitas suatu Daerah, bahkan Negara harus menjadi samar atau hilang sama sekali dari ciri budayanya masing-masing.



[1] Dialeg Makassar
[2] Dialeg Bugis

No comments:

Post a Comment

شُكْرًا كَثِرًا
Mohon titip Komentarnya yah!!
وَالسَّلامُ عَليْكُم