Tuesday, 23 July 2013

Agama dan Budaya sebagai pegangan dan indentitas

Saya mau mulai tulisan dengan cerita tentang perjalanan beberapa pelajar di Negeri ini yang menuntut ilmu di Negeri Paman Syam, ada diantara mereka yang berasal dari tanah bugis Makassar dan beberapa diantaranya adalah kelahiran jawa. Mereka berangkat ke negeri yang besar dan berperadaban tinggi menuntut ilmu dengan tujuan kembali ke negeri memperbaiki negaranya sebagaimana ilmu yang diperolehnya dari luar. Ternyata betul, setelah mereka kembali ke NKRI mereka ada yang menjadi wakil presiden, menteri keuangan, menteri pemuda dan olahraga dan beberapa menteri lagi di antaranya. Mekeralah didikan Negeri Adidaya yang sangat dipuja-puja oleh sebagian orang sementara sebagian lainnya sangat membencinya.

Lalu apa masalahnya? Secara ringkas, Suatu pernyataan sederhana yang memiliki makna yang sangat dalam bahwa “Pengetahuan cenderung akan mengarahkan orang berbuat”
1.   Seorang Dokter tidak akan menggunakan gelas yang sama untuk digunakan minum oleh orang banyak, tentunya karena ia tau kalau perilaku tersebut adalah membiarkan penularan penyakit.
2.   Seorang ahli agama tidak akan minum minuman keras atau tidak akan makan pada siang hari dibulan ramadhan karena meraka mengetahui kalau itu dilakukan maka sama saja melanggar syariat dan berarti sangat dosa.
3.   Seorang teroris akan rela bunuh diri dengan bom yang dia ledakkan karena mereka yakin bahwa pekerjaan yang mereka lakukan adalah jihad dan dijamin masuk surga.
4.   Seorang pria akan berkorban untuk kekasih yang dicintainya karena ia tahu bahwa apa yang dilakukannya membuat kekasihnya itu senang dan makin mencintainya.
5.   Sebisa mungkin, seorang siswa akan menghindari gurunya yang galak dan senang menerima pelajaran dari guru menyenangkan karena mereka tahu bagaimana bahayanya seorang guru yang marah dan betapa cerianya ketika guru yang ini akan mengajar.
Sekali lagi, pengetahuan cenderung akan mengarahkan orang untuk beruat. Pekerjaan seperti pencuri, guru, udstas, anggota dewan, dokter adalah berangkat dari pengetahuan sehingga hal tersebut mempengaruhi tingkah laku mereka. Hal yang dinilainya baik akan segera dikerjakan walau sebenarnya hal tersebut tidak menguntungkan bagi kebanyakan orang. Yang ingin dibahasakan pada narasi ini adalah bagaimana pentingnya memiliki dasar pengetahuan agar menjadi pijakan yang positif dalam berbuat.
Jika kita adalah salah seorang yang pergi keluar daerah, sebagai contoh pergi ke Luar Negeri menuntut ilmu maka kitalah yang menjadi objek dari pengaruh mulitkulturalisme. Pengaruh tersebut tidak selalu baik namun tidak juga dikatakan buruk. Hanya saja ini sangat tergantung pada siapa pengaruh ini ditujukan. Jika seseorang mudah menerima keadaan yang baru berarti mereka akan sangat gampang terjebak jika tidak memiliki filter yang kuat.
Yang ingin dibahasakan oleh penulis melalui narasi ini adalah dimanapun anda berada, Peganglah Selalu Agama Dan Budaya. Jika anda berangkat ke Negeri orang, tetaplah memeng teguh agama dan pesan-pesan moral dari budaya anda. Agama dan Budaya ini adalah pegangan sekaligus identitas yang seharusnya dipegang teguh dan sebisa mungkin tetap ada walau pengaruh multikulturalisme yang memiliki corak kebebasan tetap berwarna pada diri kita.
Sangat tidak baik jika budaya dan agama sebagai tuntunan hidup kita, yang didalamnya terdapat berjuta-juta pesan akan kebaikan dan mencegah penganutnya untuk melakukan hal-hal buruk atau kemungkaran lantas itu diabaikan dan secara bebas menerima doktrin pengetahuan, politik, pola hidup dan sebagainya. Dengan berpegang teguh pada Agama dan Memelihara Budaya, kita akan tetap berada pada koridor yang mulia walaupun cara-cara korupsi telah diperkenalkan oleh kawan-kawan seperguruan kita.

No comments:

Post a Comment

شُكْرًا كَثِرًا
Mohon titip Komentarnya yah!!
وَالسَّلامُ عَليْكُم