Thursday, 31 March 2016

Refleksi Hari Jadiku di tahun 2016



Demi masa yang telah berlalu dan demi asa yang dinanti. Sesungguhnya saya telah melewati perjalanan usia dengan berbagai aktivitas sejak 28 tahun yang lalu, yaitu Hari Selasa, 29 Maret 1988 Masehi atau bertepatan dengan 10 Sya’ban 1408 (10 – 09 – 08) pada penanggalan Hijriah adalah masa pertama kali saya memiliki asa untuk hidup dimuka bumi ini. Seiring berjalannya waktu, harapan itu kian besar yaitu harapan yang lebih dari sekedar hidup. Merefleksi 28 silam, belum ada hal yang begitu berarti yang telah kulakukan sekalipun kutau cara berjuang untuk menjadi bahagia.

Untuk masa-masa yang akan datang telah kupersiapkan sesuatu untuk kesana, meskipun masih terbilang sederhana tapi itu adalah sesuatu yang patut diperjuangkan demi menjemput asa dimasa yang dinantikan itu. Berangkat dari refleksi 28 tahun silam itu, baik yang muncul dari pengalaman pribadi maupun hikmah pelajaran hidup yang didapatkan dari orang lain dan alam semesta bahwa sesuatu yang baik (sifat) alangkah baiknya dipelihara dan dijaga dengan baik atau bahkan ditingkatkan menjadi lebih baik hingga yang terbaik. Begitupula sesuatu yang buruk (sifat) supaya ditinggalkan atau sebisa mungkin untuk diperbaiki.
Dalam hidup, mulai lahir hingga ajal menjemput manusia memiliki harapan namun berharap akan keajaiban tidak akan pernah tercapai tanpa kerja keras dan kesungguhan. Sejak lahir saya sudah memiliki harapan untuk hidup dan mendapatkan kasih sayang kemudian pada perkembangannya memiliki harapan atau keinginan yang lebih besar dan lebih banyak. Keinginan itu adalah terwudunya kemewahan sandang, pangan dan papan sebagai keperluan dasar dan memadu kasih serta harapan untuk dikenal luas melalui kekuasaan sebagai eksistensi diri manusia. Kenyataannya, refleksi itu sejak 28 tahun yang lalu menggambarkan bahwa tidak semua harapan bisa diwujudkan secara sempurna sehingga jawaban atas refleksi hari ini adalah membangun harapan yang sesuai dengan kemampuan. Sesuatu yang diharapkan harus sesuai dengan kemampuan kerja sehingga apapun yang dikerjakan mampu diselesaikan sesuai dengan harapan itu sendiri.
Melangkah ke hari berikutnya, hari ini kuukir harapan terbesar untuk masa-masa yang akan datang, semoga tuhan mengijabah keinginan itu serta merahmati dan meridhoi setiap langkah baik yang kupilih. Jika tuhan merahasiakan tiga hal pada manusia antara lain jodoh, reski dan ajal maka ketiganya harus menjadi pertimbangan untuk memanjatkan harapan pada tuhan semesta alam. Ketiga rahasia tuhan itu akan dikaitkan dengan konteks waktu sehingga tahun ini saya berharap dan berusaha agar pintu jodoh terbuka dan selanjutnya berharap dan berusaha mendapatkan keturunan sebagai penerus perjuangan dakwah dan menebar akhlak baik pada sesama manusia dan mengambil peran dalam memelihara dan melindungi alam raya ini. Karena hidup itu perlu usaha maka jalan untuk mendapatkan jodoh, rejeki dan ajal sebagai akhir dari hidup (di dunia) juga perlu usaha terbaik untuk menghadapinya, seperti itu yang kupahami terkait perjalanan hidup.
Manusia diberi potensi untuk berjuang dan melindungi sesuatu yang dicintainya. Itulah hakekat dasar manusia sehingga ciri manusia tidak hanya berjuang untuk menghidupi diri tetapi ada perjuangan untuk seorang yang paling disayangi dan dicintai. Sesuatu yang paling kuperjuangkan adalah mewujudkan keutuhan keluarga yang sakinah mawaddah dan penuh kasih sayang. Keluarga itupulalah yang paling penting untuk kulindungi. Keinginan ini semoga menjadi sesuatu yang nyata jika waktunya tiba seperti ketika kudibesarkan dengan perjuangan yang penuh dengan cinta kasih dan dari keluarga itu saya mendapatkan perlindungan. Roda waktu yang terus berputar mengiringi perjalanan hidup hingga kumerasa bahwa waktunya saya memperjuangkan kasih sayang dan cinta serta melindungi sesuatu yang telah kuperjuangkan.
Terkait jodoh, dari masa kemasa selalu ada kriteria penting yang menjadi catatan untuk dicari dan diperjuangkan. Awalnya adalah mengikut sunnah rasul bahwa mencari pasangan hidup itu karena hartanya, parasnya, keturunannya dan agamanya. Kriteria itu memang sangat penting dan yang terpenting kesemua itu adalah agama dan akhlaknya. Selanjutnya kriteria itu mengalami pergeseran bahwa yang ideal dan lebih sederhana adalah sosok yang baik imannya, dalam pengetahuan umum dan agamanya (cerdas) serta ia berasal dari keturunan orang-orang yang baik. Seperti itulah seterusnya Hingga mengalami pergeseran kriteria untuk kesekian kalinya bahwa kubutuhkan sosok yang paham dan mampu mengola urusan rumah tangga dengan baik. Kriteria itu bukan tanpa sebab tetapi semuanya sebagai persiapan untuk mengaruhi bahtera kehidupan suatu saat nanti. Kriteria itu dipilih sebagai jalan untuk menggapai asa nantinya. Sebuah harapan untuk sejahtera lahir dan batin serta mampu melakukan sesuatu dalam mewujudkan kesejahteraan pada masyarakat umum.
Perjuangan untuk hidup dan menghidupi menurut hemat saya adalah membangun investasi dibidang pertanian. Argument itu muncul sekitar 5 tahun lalu ketika salah seorang teman mengatakan “pekerjaan yang paling mulia dan sebagai benteng terbaik dan paling aman untuk hidup adalah dengan membangun usaha pertanian”. Karena itu saya benar-benar membangun pertanian untuk jangka panjang dan jangka menengah sebagai penopang hidup dan sebagai persiapan untuk mewujudkan cita-cita mulia membangun Madrasah Insan Kamil untuk mendidik generasi dan masyarakat secara sukarela. Usaha pertanian yang telah dan saat ini kukembangkan adalah menanam 1000 pohon untuk penghasil kayu bangunan serta merica dan cengkeh untuk jangka panen yang lebih cepat. Ada juga bebepa komoditi yang dikerja dengan waktu lebih singkat. Memilih pohon produktif, cengkeh dan merica sebagai tanaman utama serta beberapa tumpang sari karena itu tidak memerlukan waktu sesibuk pegawai pemerintahan dan swasta dan hasilnya bisa sebanding. Tanaman itu cukup mendapatkan perhatian seadanya dan waktu yang lebih singkat pula sehingga cara ini menjadi alternatif dan saat ini sudah ada yang menanti hasil setelah ditanam beberapa waktu yang lalu.
Harapan selanjutnya semoga dikaruniai keturunan dan selanjutnya mendidik generasi itu hingga ia benar-benar matang untuk membawakan misi dakwah dan jihad di jalan tuhan. Itu adalah harapan untuk hari-hari dan tahun-tahun selanjutnya. Seiring berjalannya waktu saya juga sangat berharap agar berkesempatan menikmati pendidikan untuk jenjang S3 untuk prodi Pendidikan Islam atau konsentrasi Manajemen Pendidikan Islam sebagai tindak lanjut keilmuan yang telah diperjuangkan selama ini. Harapan ini cukup berat karena biaya yang lumayan tinggi namun pada masa-masa yang telah berlalu perasaan itu pernah dialami bahwa biaya pendidikan cukup tinggi namun itu bisa diselesaikan dan dalam keyakinanku bahwa tuhan akan memberikan jalan dan kemudahan untuk hambah-hambahnya dalam menempuh pendidikan. Itulah bagian yang ingin kuperjuangkan di Makassar, yaitu mencari tambahan reski untuk meraih cita-cita yang lebih besar demi memperjuangkan harapan dan cinta.
Semoga tuhan memanjangkan usia saya sehingga pada umur 50 tahun saya bisa pensiun untuk urusan dunia dan kami kembali ke kampung halaman untuk membangun Madrasah Insan Kamil dan bekerja sebagai petani. Madrasah Insan Kamil adalah sebuah perguruan non formal yang dirancang untuk mengajarkan ilmu al-Qur’an pada anak-anak/generasi muda (mulai usia 10 tahun hingga usia yang tak terbatas) untuk dididik antara lain: 1) Kemampuan Baca Tulis al-Qur’an, 2) Kemampuan Hafalan al-Qur’an, 3) tilawatil qur’an, 4) Kajian Hikmah ayat-ayat dalam al-Qur’an serta 5) kajian-kajian umum yang konteks dengan zaman. Agar murid Madrasah Insan Kamil ini lebih baik, bagi mereka diharapkan mampu melatih generasi baru sebelum meninggalkan madrasah. Hari ini telah kupersiapkan konsep dan lahan yang cukup untuk Madrasah ini dan semoga bisa terwujud dengan baik. Insya Allah.
Memilih kembali ke Kampung halaman dan bertani sebagai pilihan adalah yang terbaik karena bertani masih menjadi pekerjaan yang paling halal dan mulia. Bagi pribadi saya, bertani adalah sesuatu yang sangat menyenangkan karena mulai dari proses hingga panen selalu memberikan harapan dan kepuasan batin jika disyukuri. Sejak benih disemaikan, harapan dan do’a semakin menguat dan suatu kepuasan jika melihat benih itu tumbuh dari hari ke hari hingga matang dan siap dipanen. Pada usia 50 tahun itu sudah waktunya pensiun dari urusan politik dan segala bentuk urusan ekonomi di kota, harapannya agar mendapatkan ketenangan hidup dan jawabannya bertani adalah pekerjaan dan mendirikan madrasah non formal untuk berbagi ilmu, pengalaman dan bahkan materi Insya Allah. Itulah refleksi hari ini bahwa suatu saat nanti kami atas nama keluarga termasuk kedalam jiwa-jiwa yang tenang. Rabbanaa atinaa fid dunyaa hasanatan, Wafil akhirati khasanatan, Wakinaa adzaban naar. Amin yaa rabbal ‘alamin.
Untuk meraih harapan tersebut, semoga Allah memudahkan reskinya dan memberikan jalan yang tebaik untuk hambanya.
Siasat atau strategi dalam mewujudkan impian itu antara lain semangat dan kerja keras dalam mewujudkan kesejahteraan keluarga agar bisa dimanfaatkan untuk urusan hidup dan dakwah. Karena cita-cita itu terkait dengan urusan keluarga (Insya Allah) maka kriteria pendamping hidup antara lain adalah sosok yang mampu mendidik anak, terutama dalam mengajarkan ilmu al’qur’an. Kekuatan dan kemampuan mengola dan memanfaatkan ekonomi dengan baik. Dalam Hukum ekonomi (urusan rumah tangga) ada kebutuhan primer dan kebutuhan sekunder, dari Hukum ekonomi itu diharapkan ia adalah sosok yang mengutamakan manfaat dari pada tren. Penting juga kesederhanaan dalam hidup serta mampu berjuang mewujudkan cita-cita itu bersama-sama atau paling tidak ia adalah sosok yang mendukung cita-cita itu. Jika kriteria itu tidak sesuai sikap maupun kepribadian saya sehingga tidak sebanding maka biarlah harapan itu bergeser menjadi siapapun yang sesuai atau bahkan cukup untuk mereka yang memberikan kasih sayang dan semangat hidup untuk berjuang bersama.
Ya Allah yaa Rabbal ‘alamin, hamba hanya bisa berharap, berusaha dan berjuang untuk masa depan itu. Olehnya itu berilah berilah kami kekuatan dan semangat untuk meraih masa depan yang terbaik. Masa depan yang tenang serta masuk dalam kelompok jiwa-jiwa yang tenang. kabulkanlah harapan itu yaa rabbal ‘alamin.
Sebuah refleksi yang dihari lahirku, ditulis di Bulukumba pada 29 Maret 2016 M/20 Jumadit Tsaniyah 1437 H @ 01.00 dini hari.

No comments:

Post a Comment

شُكْرًا كَثِرًا
Mohon titip Komentarnya yah!!
وَالسَّلامُ عَليْكُم