Monday, 20 June 2016

Dampak Negatif Dualisme Pendidikan


Ketergantungan uman Islam dalam bidang pendidikan, disadari sebagai faktor terpenting dalam membina umat, hampir tidak dapat dihindarkan dari pengaruh Barat. Ujungnya, krisis identitas pun tidak bisa dihindarkan melanda umat Islam. menurut istilah AM. Saefuddin, ketidakberdayaan umat Islam itu membuatnya bersifat taqiyyah.[1] Artinya, kaum Muslimin lebih menyembunyikan identitas Islamnya, karena rasa takut dan malu. Ternyata sikap seperti itu yang banyak melanda umat Islam di segala tingkatan dimanapun berada, baik di infrastruktur, maupun suprastruktur.

Melemahnya orientasi sosial umat Islam ini secara tidak sadar telah memilah-milah pengertian Islam yang kaffah  ke dalam pengertiam parsial dalam hakikat hidup bermasyarakat. Islam hanya dipandang dari arti ritual saja. Sementara urusan lain banyak didominasi dan dikendalikan oleh konsep-konsep Barat. Akibatnya, umat Islam lebih kenal budaya Barat dari pada budaya sendiri/Islam.
Di samping dampak umum yang dirasakan di atas, berikut akan dipaparkan dampak negatif lain sebagai akibat munculnya pendidikan tersebut.
1. Munculnya Ambivalensi Orientasi Pendidikan Islam
Salah satu dampak negatif adanya dikotomi sistem pendidikan, terutama di Indonesia adalah munculnya ambivalensi orientasi pendidikan Islam.[2] Sementara ini, dengan pendidikan pesantren, masih dirasakan adanya kekurangan dalam program yang diterapkan. Misanya dalam bidang mu’amalah (ibadah dalam arti luas) yang mencakup penguasaan berbagai disiplin ilmu dan keterampilan, terdapat anggapan, bahwa seolah semua itu bukan merupakan bidang garapan Islam, melainkan bidang garapan khusus sistem pendidikan sekuler.
Sistem madrasah apalagi sekolah dan perguruan tinggi Islam, telah membagi forsi materi pendidikan Islam dan materi pendidikan umum dalam prosentase tertentu. Hal itu tentu menunjukkan bahwa pendidikan Islam tidak lagi berorientasi sepenuhnya pada tujuan pendidikan Islam. namun ironisnya, juga tidak mampu mencapai tujuan pendidikan Barat. Pada akhirnya, pendidikan Islam di sekolah dan perguruan tinggi (terutama umum) diketahui sebagai materi pelengkap yang menempel sebagai pencapain orientasi pendidikan sekuler.
2. Kesenjangan antara Sisem Pendidikan Islam dan Ajaran Islam
Pandangan dikotomis yang memisahkan antara ilmu-ilmu agama dan ilmu-ilmu umum bertentangan dengan konsep ajaran Islam yang memiliki ajaran integralistik. Islam mengajarkan bahwa urusan dunia tidak terpisah dengan urusan akhirat.
Implikasinya, bila merujuk pada ajaran Islam ilmu-ilmu umum seharusnya difahami sebgai bagian tak terpisahkan dari ilmu-ilmu agama. Oleh karenanya, bila paham dikotomi dan ambivalen dipertahankan, output pendidikannya itu tentu jauh dari cita-cita pendidikan Islam itu sendiri.
3. Disintegrasi Sistem Pendidikan Islam
Hingga saat ini, boleh dikatakan, bahwa dalam sistem pendidikan kurang terjadinya perpaduan (usaha integralisasi). Kenyataan ini diperburuk oleh ketidakpastian hubungan antara pendidikan umum dan pendidikan agama. Bahkan hal itu ditunjang juga oleh kesenjangan antara wawasan guru agama dan kebutuhan anak didik, terutama di sekolah umum.[3] Dualisme dan dikotomi pendidikan dari sistem pendidikan warisan zaman kolonial yang membedakan antara pendidikan umum di satu pihak dan pendidikan agama di pihak lain, adalah penyebab utama dari kerancuan dan kesenjangan pendidikan khususnya di Indonesia dengan segala akibat yang ditimbulkannya.
Senada dengan di atas, menurut Marwan Saridjo bahwa,[4] akibat dan dampak negatif dari sistem pendidikan dualistik, yaitu (1) arti agama telah dipersempit yaitu sejauh yang berkaitan dengan aspek teologi Islam seprti yang diajarkan di sekolah-sekolah agama selama ini; (2) sekolah-sekolah agama dan perguruan tinggi agama Islam rata-rata ber I.Q rendah dan dari kelompok residual.
Pengaruh-pengaruh negatif yang diakibatkan oleh sistem dualisme pendidikan tersebut sangat merugikan dunia pendidikan Islam. kecenderungan untuk terpukau pada sistem pendidikan Barat, sebagai tolok ukur kemajuan pendidikan nasional, diakui itu telah mempengaruhi sistem pendidikan Islam sehingga sistem pendidikan agama Islam menjadi terpecah dalam tiga bentuk, yakni; sistem pesantren; madrasah; dan sistem perguruan tinggi Islam,[5] yang masing-masing memiliki orientasi yang tidak terpadu.  Sistem pesantren berorientasi pada tujuan institusionalnya, antara lain terciptanya ahli ilmu agama. Sistem madrasah bergeser orientasi ke penguasaan ilmu umum sebagai tujuan sekunder. Akhirnya berkembang menjadi sekolah Islam atau sekolah tinggi Islam yang tujuan institusional perimernya adalah penguasaan ilmu-ilmu umum, sedangkan ilmu-ilmu agama menjadi tujuan skunder. AHM

Baca juga:






[1]A. Saifuddin, Desekularisasi Pemikiran (Bandung: Mizan, 1991), h. 97
[2]Ibid., h. 103
[3]AM. Saefuddin, op. cit., h. 105
[4]Marwan Saridjo, Bunga Rampai Pendidikan Agama Islam (Cet.I; Jakarta: Amisco, 1996), h. 21.
[5]Tobrani dan Syamsul Arifin, Islam Pluralisme Buaya dan Politik (Yogyakarta: SI Press, 1994), h. 167 


No comments:

Post a Comment

شُكْرًا كَثِرًا
Mohon titip Komentarnya yah!!
وَالسَّلامُ عَليْكُم