Sunday, 19 June 2016

Jelajah - Keunikan Masyarakat di Kajang




Di Kabupaten Bulukumba Provinsi Sulawesi Selatan terdapat komunitas adat yang sangat unik. Keunikan komunitas masyarakat di sana menjadikan kampung Lalang Bata Desa Tanah Towa Kecamatan Kajang menjadikan tempat ini menjadi salah satu objek wisata budaya, wisata spiritual, study komparatif atau tujuan lainnya. Berikut ini adalah penggalan cerita dari edisi jelajah yang berlokasi di ujung Selatan Pulau Sulawesi yang berjarak sekitar 200 Km dari kota Makassar.

Kajang dianggap unik karena masyarakat disana tidak mau mengikuti tren globalisasi yang melanda dunia. Masyarakat di sana tetap berpegang teguh pada paseng[1] yang berlaku. Apapun produk dari luar seperti media komunikasi dan elektronik, pashion, makanan, pendidikan, transportasi, pengobatan medis dan sebagainya sampai saat ini belum diterima oleh masyarakat di kawasan adat.
Kalau melihat kehidupan masyarakat adat Kajang sebagaimana digambarkan di atas maka masyarakat di sana terbilang ketinggalan zaman yang tidak mau mengikuti perkembangan dan inovasi dari berbagai sektor yang memudahkan umat manusia dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Disana tidak ada mesin, tidak ada alat komunikasi modern atau sesuatu yang baru yang datang dari luar daerah tersebut. Bukan karena masyarakat tidak tau tapi masyarakat disana yang tidak mau menerima sesuatu dari luar.
Sampai hari ini, penulis belum mengetahui secara pasti apa alasan masyarakat disana sehingga tidak mau menggunakan produk-produk baru yang dari luar komunitas adat. Namun menurut hemat penulis bahwa mereka mampu membendung serangan kapitalisme global dan mashab ekonomi lainnya dengan tidak menggunakan produk mereka. Bahkan pada opini yang telah diposting terdahulu menggambarkan masyarakat Kajanglah (salah satu) yang berada pada posisi terdepan dalam membela dan mempertahankan kedaulatan bangsa ini.
Ketinggalan jaman tidak membuat keseharian masyarakat menjadi sulit. Masyarakat bahkan bisa menikmati kelestarian alam mulai dari suhu udara yang bersih dan sejuk, air yang segar dan produksi buah untuk makanan yang cukup. Selain itu masyarakat hidup tentram bersahaja dengan ikatan masyarakat yang patuh pada aturan yang berlaku.
Itulah cerita jelajah kali ini. Jika anda sudah pernah kesana atau pernah mendengar cerita tentang masyarakat Kajang untuk sisi lainnya bahwa masyarakanya ngeri atau menakutkan karena memiliki kemampuan untuk melunakkan kepala, membuat orang tak sadarkan diri, melumpuhkan lawan dan sangat keras terhadap masyarakat dari luar maka itu tidak sepenuhnya benar. Beberapa kali penulis mengunjungi tempat itu dan rasanya biasa-biasa saja untuk hal-hal mistik, kecuali jika ada diantara mereka yang melanggar aturan maka biasanya hukuman adat secara mistik langsung menimpah mereka yang melakukan pelanggaran. Baiknya adalah masyarakat Kajang sangat menghargai tamunya yang juga menghargai nilai-nilai dan aturan-aturan yang dipengang teguh oleh masyarakat di kawasan adat. Jadi kalau anda punya kesempatan kesana maka tanyakanlah pada masyarakat apa yang tidak boleh di langgar sebelum memasuki pintu gerbang kawasan adat. AHM

Masyarakat Adat Kajang
pengunjung


[1] Paseng adalah wahyu yang diturunkan dari Tu rieq aqraqna kepada Ammatoa (Kepala Adat) yang kemudian menjadi sandaran masyarakat dalam beramal.

No comments:

Post a Comment

شُكْرًا كَثِرًا
Mohon titip Komentarnya yah!!
وَالسَّلامُ عَليْكُم