Monday, 3 October 2016

Kenyataan dalam Profesionalisme


Belakangan ini kita sudah semakin sulit menemukan kemurnian niat dan amal manusia dalam menjalani kehidupannya sehari-hari. Pekerjaan yang dilakukan hanyalah symbol bahwa hal tersebut merupakan pekerjaan yang murni berdasarkan profesionalitasnya.

Kenyataannya hari ini banyak guru sebagai pekerjaan yang menuntut profesionalisme justru tidak mencerminkan nilai-nilai keguruan yang mendidik, justru mereka (guru) menjadi contoh yang tidak baik seperti terlambat masuk kelas, kebanyakan bercerita pengalaman pribadi (diluar pembahasan study) dari pada membahas mata pelajaran, menuntut nilai yang tinggi sementara tidak memberi bekal keilmuan yang cukup, terlalu banyak memberi tugas dengan beban yang cukup berat dan masalah-masalah lainnya. Profesi (pekerja) lain tentu saja ada kemungkinan bekerja diluar kode etik dalam pekerjaannya. Pekerjaan lain yang juga menuntut profesionalisme antara lain dokter, perawat, bidan, apoteker, pekerja sosial dan sebagainya yang menuntut keahlian khusus dan sesuai dengan bidang keilmuan bukan berarti benar-benar telah bekerja professional. Masih sering ditemukan kendala-kendala teknis dilapangan bahwa mereka tidak bekerja secara professional.

Secara umum setiap pekerjaan menghasilkan upah sehingga pekerjaan yang menuntut profesionalisme juga sudah pasti mengharapkan upah. Etika profesionalisme antara lain kesesuaian antara keilmuan dan bidang pekerjaan.

Jika kebanyakan orang bekerja secara professional maka jaminan akan masalah-masalah sosial, pendidikan, kebudayaan, kesehatan, politik, keamanan, akses transpostasi dan komunikasi dan sebagainya akan menjadi lebih baik. Kenyataannya, cukup banyak guru yang tidak mencerminkan sosoknya sebagai guru karena fokus utamanya bukanlah mendidik namun sekedar untuk mendapatkan pujian, level dan keuntungan materi. Begitu juga dengan pihak keamanan hari ini bahwa masih ada yang bekerja hanya untuk kepentingan ekonomi saja. Itu sangat jelas karena cukup banyak orang yang rela melakukan pembayaran dengan bajet yang lumayan besar untuk mendapatkan posisi/pekerjaan di Polri. Untuk urusan kemampuan dan keterampilan tugas biar urusan belakangan. Mengapa hal ini terjadi? Alasan utama seseorang menuntut pekerjaan adalah yang paling menjanjikan dan memiliki penghasilan paling aman.

Dengan demikian, jika seorang guru, pekerja sosial, polri, tni, dokter, perawat dan perkerjaan profesional lainnya memiliki niat paling utama agar mendapatkan kemapanan serta berharap jaminan kesejahteraan yang tinggi maka mungkin inilah yang akan merusak profesionalime itu.

Kalau begini adanya! Bagaimana bisa bangsa ini menjadi baik?

No comments:

Post a Comment

شُكْرًا كَثِرًا
Mohon titip Komentarnya yah!!
وَالسَّلامُ عَليْكُم