Tuesday, 28 March 2017

Refleksi Ulang Tahunku, Mengenang 16 Tahun yang lalu



Pada ulang tahunku yang ke-29 ini (29 Maret 1988), kucoba mengenang refleksi perjalanan hidupku pada tahun 2001 (16 tahun yang lalu). Meskipun dari tahun ketahun terdapat jutaan memori dan pengalaman penting untuk dibagi dalam bentuk inspirasi baik sebelum tahun 2001 maupun setelahnya tapi AHM ingin mengungkap gambaran kehidupanku pada masa itu.


Tahun 2001, saat tamat Sekolah Dasar Penulis meninggalkan kampung halaman untuk melanjutkan pendidikan menengah di Madrasah Tsanawiyah Negeri Model Makassar. Pada tahun itu, Penulis lulus seleksi dan diterima belajar di sana. Karena tidak ada asrama di Madrasah sehingga siswa yang tidak memiliki tempat tinggal (rumah pribadi) harus kost atau menyewa kontrakan rumah. Untungnya pada tahun 2011 masih ada saudara penulis yang tinggal kost di Makassar sehingga lebih gampang belajar tentang kehidupan di kota. Namun demikian, karena ditahun yang sama (2011) adalah tahun penyelesaian Studi kakak saya di IAIN Alauddin Makassar sehingga untuk beberapa bulan harus tinggal sendiri di kost.

Saat AHM menginjak usia 13 tahun, tepatnya kelas 8 di MTs Negeri Model Makassar (Tahun 2002) sudah terlatih sebagai penghuni kost yang harus hidup mandiri, mengurus diri sendiri dan berlatih manajemen. Tahun itu keluarga kami sedang berduka dan karenanya hurus pulang kampung selama 1 Minggu dalam suasana duka. Meski demikian karena kewajiban belajar berjalan normal maka pada akhirnya AHM berangkat ke Makassar dibekali uang Rp. 35.000,- untuk hidup 1 bulan (salah satu bentuk latihan yang baru kupahami manfaatnya). Kalau dibandingkan dengan nilai uang saat ini (tahun 2017) berkisar Rp. 350.000,-. Uang sebanyak itulah yang digunakan hidup lebih dari 1 bulan untuk hidup dikota yang materialis. Kalau uang sebanyak itu bahkan hanya bisa bertahan selama 3 hari saat ini dalam keadaan irit. Uang sebanyak itu tenyata bisa dimanfaatkan dengan baik, bahkan untuk membayar tagihan listrik saja sudah menghampiri Rp.10.000,- dan sudah pasti ada kebutuhan-kebutuhan lainnya, baik di kost maupun diskolah.

Kalau dibawa pada kondisi hari ini, AHM sudah tidak berani ke Makassar untuk perjalanan 2 hari saja tanpa membawa uang saku minimal Rp. 500.000,-. Itulah yang berubah namun karena sudah cukup terlatih sehingga beberapa hal bisa ditaktisi.

Dengan bekal “Paseng” dari orang tua sehingga Penulis berani melangkahkan kaki menuju Makassar dan mencoba hidup untuk mandiri. Paseng inilah yang menjadi modal utama. Soal bagaimana hidup di Makassar yang jauh dari sanak family dan berjuang hidup.

Selanjutnya kemana kaki AHM akan melangkah? Hari ini serpih jiwaku berdo’a agar gulungan ombak takdir kebaikan akan selalu menerpa dunia dan isinya, lalu memohon akan berkah, keselamatan, kasih sayang dan luasnya kemurahan Sang Maha Pengasih untuk segala bentuk kehidupan serta simpuhkan pinta atas indahnya waktu yang akan terlalui hari ini, esok, lusa hingga akhir nanti...# امين ياالله

bersama Guru dan Sahabat-sahabat seperjuangan
Madrasah Tsanawiyah Negeri Model Makassar

No comments:

Post a Comment

شُكْرًا كَثِرًا
Mohon titip Komentarnya yah!!
وَالسَّلامُ عَليْكُم