Wednesday, 4 October 2017

Paseng Tomatoa dan Pergeseran Nilai

Suatu hari aku ngobrol berdua dengan Muadzin Mesjid Nurul Hidayatullah Batang-batang Desa Anrang Kecamatan Rilau Ale Kabupaten Bulukumba. Orang-orang dikampung ini menyebut namanya Puang Baddu. Ia merupakan petani (pekerja kebun) dan juga ternak. Jarak rumahnya ke Mesjid cukup jauh namun ia setia mengumandangkan adzan setiap magrib, isya dan subuh.

Hari itu kami ngobrol banyak hal antara lain pengalaman hidup, usaha pertanian/peternakan, hobby, spiritual, jejak sejarah dan masih banyak lagi. Dari sekian pembahasan yang di ungkap Puang Baddu, ada dua hal yang disampaikan yang maknanya sangat dalam antara lain soal posisinya sebagai muadzin yang merasa miris karena beberapa kali ia mengumandangkan panggilan ilahi namun mesjid tempat ia berseru tidak juga ramai.
Poin kedua soal pesan leluhur bahwa “akan datang suatu masa dimana sangat banyak orang yang pintar dan berpendidikan tapi ilmunya tidak begitu berarti”. Pesan itu benar-benar menjadi kenyataan hari ini. Puang Baddu menjelaskan bahwa hari ini banyak yang berpendidikan tinggi tapi tersesat dan masuk penjara. Bahkan dari pendidikan agama yang justru memberi contoh yang tidak baik bagi masyarakat umum yang seharusnya dia menjadi panutan.

Semoga kekhawatiran akan zaman yang semakin edan tidak mengurangi amalan jariyah kita. Amin yaa Allah yaa rabbal ‘alamin. > Semoga tradisi leluhur kita yang sifatnya baik dan mendidik tetap lestari. Amin yaa Allah yaa rabbal ‘alamin. > Semoga generasi penerus bangsa, generasi kita menjadi lebih baik dan mewujudkan Islam yang toleran dan rahmatan lil ‘alamin. Amin yaa Allah yaa rabbal ‘alamin. 

No comments:

Post a Comment

شُكْرًا كَثِرًا
Mohon titip Komentarnya yah!!
وَالسَّلامُ عَليْكُم