Friday, 24 November 2017

Mencegah Penyakit yang Berujung pada Kematian Jiwa

Manusia pada dasarnya memiliki dimensi lahiriyah dan batiniyah. Dimensi tersebut masing-masing butuh asupan dan perawatan sehingga sehat dan berfungsi sebaik mungkin. Asupan lahiriyah tubuh manusia adalah makanan dan minuman yang bergizi sementara untuk batiniyahnya adalah spiritual. Jika kedua dimensi tersebut mendapatkan asupan yang cukup maka orang tersebut akan sehat lahir dan batin.

Pada postingan ini penulis ingin lebih fokus pada asupan dan perawatan untuk dimensi batiniyahnya sehingga tidak terjadi sakit jiwa atau bahkan matinya batin seperti binatang yang berarti gila.
Gejala sakit jiwa antara lain adalah kecemburuan sosial (dengki), iri hati, hasut, fitnah, buruk sangka, khianat, sombong, ujub (membanggakan diri), merendahkan orang lain, suka menonjolkan diri, mengikuti hawa nafsu, dan sifat-sifat buruk lainnya. Kalau sifat tersebut ada pada diri seseorang berarti ia sedang berada dalam kondisi yang sakit jiwa. Hal ini bisa diobati berdasarkan tuntunan al Quran dan hadis Nabi Muhammad saw. Jika tidak diobati maka akan mengalami disfungsi batin hingga kematian seperti tubuh bahwa dia bisa mati karena karena sakit sakit keras.
Semakin maju zaman yang diiringi kemajuan teknologi informasi dan komunikasi maka kebutuhan dan kepentingan manusia akan turut mengingkat. Kebutuhan inilah yang membuat manusia membangun ambisi besar untuk menjadi penguasa, kaya, dikenang dan dianggap paling bisa. Berangkat dari kepentingan itu juga yang menyebabkan manusia lebih memilih cara apa saja demi ambisi menang tanpa mempedulikan kawannya sendiri.
Hanya karena ambisi duniawi sehingga sakit jiwa itu ada. Andaikan ambisi itu ditekan dengan sabar, tawadhu, ketulusan, sikap, sifat, dan pemahaman yang positif maka jiwa akan sehat. Pada kondisi tersebut, jiwalah yang menuntun tubuh untuk berbuat sehingga keselamatan dan keamanan lahir dan batin lebih sehat dan terpelihara.

Dewasa ini memang kita sedang menghadapi masa yang berat dan mengarah pada kerugian dan hanya melalui iman serta saling mengingatkan tentang amalan kebaikan dan tentang kesabaran yang bisa menyelamatkan kita. Untuk itu mari kita kembali pada simpul kebenaran dan untuk kemaslahatan bersama. (ahm)

No comments:

Post a Comment

شُكْرًا كَثِرًا
Mohon titip Komentarnya yah!!
وَالسَّلامُ عَليْكُم