Wednesday, 16 May 2018

Meneladani Pergeseran Paradima



Suatu paradigma tidak selamanya bertahan sebagai suatu pandangan atau anggapan tentang sesuatu pada seseorang. Paradigma akan bergeser sesuai dengan perputaran waktu dan perubahan ruang. Paradigma juga erat kaitannya dengan nilai, dengan kata lain yang dianggap baik hari ini belum tentu dianggap baik pada masa lalu maupun masa yang akan datang sehingga ada evaluasi untuk mengukur keberhasilan suatu proses. Begitu juga ada inovasi untuk memperbaiki kesalahan atau kekeliruan masa lalu dan masa kini untuk perbaikan pada masa-masa berikutnya.

Secara filosofis, ketika paradigma disandingkan dengan suatu teori atau tesa maka setiap teori hanya berlaku pada saat teori tersebut masih diakui kebenarannya dan tidak terbantahkan. Namun ketika suatu teori sudah memiliki anti teori atau anti tesa sebagai pembanding maka secara otomatis teori tersebut sudah mulai bergeser dari posisinya sebagai satu-satunya paradigma yang berlaku. Meskipun demikian, anti tesa bukanlah berarti suatu paradigma yang benar sehingga bisa dijadikan pedoman baru karena ada kemungkinan paradigma lama masih lebih dominan. Biasanya ketika suatu tesa memiliki pembanding yang dalam hal ini adalah anti tesa maka akan muncul tesa baru sebagai kesimpulan baru atau teori baru yang kemudian disebut sebagai sintesa. Seperti itulah suatu paradigma lahir kemudian dibantah oleh paradigma baru sehingga muncul paradigma yang lebih baru lagi. Alurnya adalah dari suatu tesa kemudian dibantah/dikritik (karena suatu alasan) oleh anti tesa lalu muncul sintesa atau kesimpulan baru.
Sintesa sebagai kesimpulan baru bukan berarti akan bertahan karena masih ada kemungkinan akan terbantahkan oleh anti tesa berikutnya lalu muncul lagi kesimpulan terkini. Seperti itulah paradigma, ia yang hanya dianggap benar jika belum memiliki pembanding dan bantahan.
Tentang paradigma ini, penulis tertarik dengan suatu pernyataan oleh Salah Seorang Kepala Sekolah di SMP Sangata Utara Kabupaten Kutai Timur Provinsi Kalimantan Timur an. Sukmawati, S.Pd. Bu Sukma mengatakan bahwa ada banyak hal yang bisa berubah dalam hidup ini, termasuk diantaranya adalah paradigma, prinsip dan kebijakan. Hal tersebut berubah karena kita sudah menyadari bahwa paradigma, prinsip maupun kebijakan yang selama ini kita miliki dan amalkan sudah tidak relevan. Untuk itu, agar tercipta suatu pandangan yang lebih baik maka kita sejatinya mengubah prinsip, paradigma maupun kebijakan kita.
Alat pengukur dari suatu paradigma adalah perasaan atau kata hati, pengamatan atau kesaksian langsung maupun tidak langsung (kesaksian orang lain) atau juga bisa diukur dengan pemikiran.  
Sukmawati mengatakan bahwa dirinya dimasa lalu pernah memegang prinsip dan mengamalkan sesuatu yang bersumber dari olahpikirnya. Hal tersebut kemudian berubah karena olah batinnya (kata hati) dan akhirnya mengatakan bahwa dirinya saat ini bisa jadi masih mengalami perubahan sikap, paradigma atau prinsip. Tentu saja itu sangat tergantung dengan kondisi alam ataupun hukum alam.
Mari kita memperbaiki keadaan ini dengan prinsip kebaikan dan paradigma yang terbaik untuk menjawab tantangan zaman. Tantangan kita adalah berada dizaman yang edan dan semoga kita tetap bisa melakukan kebaikan. Mari kita membangun paradigma baru untuk menjawab permasalahan zaman, menanamkan prinsip yang baik untuk memperbaiki keadaan serta membuat kebijakan yang terbaik agar masa depan dunia baik dan juga keselamatan di akhirat kelak.

No comments:

Post a Comment

شُكْرًا كَثِرًا
Mohon titip Komentarnya yah!!
وَالسَّلامُ عَليْكُم