Sunday, 10 June 2018

Ramadhan dan Menyikapi Tradisi Lebaran

Sebentar lagi kita akan meninggalkan bulan suci ramadhan yang mubarak, bulan yang mulia menuju bulan syawal. Patut kita bersyukur karena bisa menjalankan ibadah sampai hari ini, hari-hari dipenghujung bulan yang berarti sebentar lagi kita masuk pada final (hari ke-29 atau ke-30) dalam bulan ramadhan. Suka dukanya adalah kita akan segera meninggalkan bulan yang didalamnya kita bisa meraih pengampunan dan bebas dari siksaan api neraka. Yang membuat kita sedih adalah masihkah kita akan bertemu pada bulan ramadhan tahun berikutnya? Sementara kita juga akan bahagia dan merasa sangat senang karena sampai pada final dan akan dirayakan pada tanggal 1 bulan syawal atau bertepatan dengan tanggal 15 juni 2018.

Idul Fitri adalah salah satu hari besar umat islam yang didalamnya terdapat tradisi yang terus dilestarikan oleh penganutnya. Berbagai tradisi tersebut seperti; syukuran dengan menyediakan berbagai jenis makanan dan minuman dalam menyambut hari lebaran, pakaian yang serba baru, tradisi saling mengunjungi untuk mempererat tali silaturrahmi, siarah makam hingga piknik. Secara total setiap tradisi tersebut memiliki nilai positif dan sebagiannya lagi sudah bergeser ke arah yang negatif.
 Secara ensensial, terdapat beberapa hal yang berubah dalam tradisi Lebaran antara lain: 1) berlomba-lomba menyediakan makanan (kue lebaran) yang paling istimewa. Tradisi ini seperti kompetisi yang diperebutkan berdasarkan status sosial. Yang terbaik akan merasa menang dan yang lain mungkin merasa minder, apalagi pada beberapa kampung sudah ada yang mulai membanding-bandingkan nilai kue lebaran dan hal tersebut sudah keluar dari tujuan/hakikat silaturrahmi. 2) Pakaian juga menjadi hal yang menonjol dalam lebaran. Tradisi lebaran belakangan ini dirayakan dengan menyediakan pakaian dari segi trend, brand, harga, model dan sebagainya.
Memang sewajarnya bahwa untuk mewujudkan kesyukuran maka harus dilakukan dengan persembahan terbaik tapi bukan memaksakan keadaan menjadi yang terbaik. Kita sudah berlatih untuk hidup sederhana dan irit dalam bulan ramadhan dengan berpuasa dan banyak bersedekah. Bulan puasa sejatinya menjadi dasar bagi kita untuk tetap mempertahankan nilai-nilai kemanfaatan dan kesederhanaan dalam hidup. Mari kita tetap sederhana dalam hidup tapi kaya dalam amalan kebaikan.
Mohon Maaf Lahir dan Batin.
Mohon Maaf Lahir dan Batin

No comments:

Post a Comment

شُكْرًا كَثِرًا
Mohon titip Komentarnya yah!!
وَالسَّلامُ عَليْكُم