Skip to main content

Teknologi yang menyita waktu dan mengalihkan perhatian

Diposko Induk Taruna Siaga Bencana hari ini tanggal 22 Januari lumayan ramai. tapi tidak ada yang berkomunikasi antar personal. kenapa yah? ternyata teknologi telah memperdaya kita dengan tawarannya yang mengasyikkan sehingga kita melupakan hal-hal lain yang lebih penting, person masing-masing asyik dengan sistem yang ada. system itu antara lain Radio Komunikasi Antar Penduduk, TV, HP semuanya aktif tapi tidak ada seorangpun yang menghiraukannya. bukankah lebih baik kalo dinonaktifkan saja?? tidak juga, barangkali ada infomasi yang akan mengalihkan perhatian kita sehingga apa yang ada didepan kita masing-masing bisa ditinggalkan. 
Facebook diLaptop adalah system yang memperdaya kita dan banyak menyita waktu. memang memiliki banyak manfaat tapi adakah kita menyadari bahwa dibalik semua itu menyita banyak waktu. anggaplah waktu beribadah, belajar, bercakap dengan keluarga ataupun waktu lainnya yang sifatnya lebih berbudaya. Aduh, payah rasanya hidup ini bila perhatian ini dimanfaatkan oleh hal-hal yang sifatnya maya.

Mungkin beginilah cara untuk melumpuhkan generasi kita di Indonesia yang sebagian besar waktunya telah beralih kedunia maya. belajar menjadi terganggu, ibadah menjadi berkurang, kreativitas juga menurun bahkan banyak diantara kita yang sudah ketagihan karenanya

Comments

Popular posts from this blog

Kedudukan Ar-ra'yu sebagai Landasan Hukum Islam

Referensi Pada dasarnya umat Islam yang beriman Kepada Allah swt. Meyakini bahwa Sumber utama Ajaran Islam yaitu Alquran dan Hadis sudah sempurna. Firman Allah dalam Alquran sudah sempurna membahas aturan-aturan, hukum, ilmu pengetahuan (filsafat), kisah, ushul fiqh dan lain-lain. Begitu juga Hadis Rasulullah yang salah satu sifatnya menjadi penjelasan ayat-ayat dalam Alquran. Posisi Hadis adalah penjelas dan sumber kedua setelah Alquran.

Saya Memilih Domisili di Kab. Gowa

Setelah memilih salah satu dari kandidat calon pemimpin baru Sulawesi Selatan pada selasa kemarin. Kali ini saya dihadapkan pada pilihan menetap di Bulukumba atau Kabupaten Gowa. Pilihan ini sebetulnya agak ribet bagi saya. Jika saya memilih tinggal di Bulukumba, berarti saya harus menyiapkan waktu dan tenaga ke Makassar setiap hari jum’at untuk kuliah dan balik lagi kekampung pada hari minggu untuk rutinitas pertanian.

Belajar dari Kekecewaan

Sambil ngopi dan ngobrol di kamar kost seorang diri (maksudnya mikirin nasib dimasa mendatang) tiba-tiba perhatian saya tertuju pada sebuah status yang ditulis oleh Ustadz Sukardi yang popuer disapa ustads muda di kampung kami.