Skip to main content

Sahabat Terdekat adalah Kematian


 (Ispirasi dari tausiyah Kak Uki’)
Salah seorang kakak yang datang pada acara do’a bersama mengantar perjalanan salah satu sahabat terbaik kami “kak Ba’im” mengatakan “kalo kalo acara do’a, pasti saya datang” pada jum’at malam pukul 20.25 kemarin di Tabaria memberikan kesan emas bagi saya. Saya juga sebetulnya demikian, akan hadir untuk acara yang sifatnya penting seperti ini selain untuk berdo’a bersama juga sebagai ajang silaturrahmi. Pada pertemuan tersebut saya yakin hanya beberapa orang dari laskar mujahid yang hadir dalam bingkai do’a bersama untuk kk ba’im, oleh karena pertemuan tersebut adalah sebuah karunia Allah yang sangat besar sehingga saya merasa harus membagikannya.
Malam itu suasana yang baru saya rasaka di tengah keramaian dan corak warna dari Ambalan Mujahid, mulai yang paling mudah sampai pada kakak sudah puluhan tahun menjadi alumni mujahid memperkaya suasana sehingga keinginan untuk bersua dalam suasana yang lain terus menjadi harapan. Yang tidak diinginkan adalah selalu berdo’a dalam hal yang sama meski kita yakin bahwa kematian itu adalah sahabat terdekat (petikan tausiyah kak Uki’) serta tidak akan pernah lepas dan lupa dengan kita. Tutur yang luarbiasa mengharukan juga menggema dari lisan kakak yang lain, dalam tuturnya belia berpesan “Semoga dalam suasana bahagia, kita dapat kembali berkupul dan berdo’a bersama sahabat terbaik kita di Mujahid”.
Meskipun dalam suasana duka tetapi masih memberikan semangat kebersamaan yang kokoh dan pencerahan bahwa seorang mujahid yang telah mendahului kita akan di tempatkan disisi Allah dalam suasana yang bahagia dan akan menanti kita dengan harapan terus bersama dalam suasana yang bahagia pula kelak.
Suatu keyakinan bahwa kita akan menuju kesana dan sudah disadari oleh setiap orang yang berakal bahwa sahabat yang pasti dan semakin dekat oleh kita adalah kematian. Olehnya itu perlu persiapan untuk melayani sahabat kita itu dengan memperbanyak amaliah-amaliah ibadah seprti membaca al-Qur’an, do’a-do’a dll. tanpa meninggalkan  ibadah yang wajib.
Hadiah yang dapat diberikan kepada keerabat atau sahabat yang terlebih dahulu menuju alam barsah adalah dengan membacakan surat yaasin dan surat al-Mulk, olehnya itu marilah kita mengirimkan hadiah ini untuk sahabat terbaik kita, dan untuk kerabat kita tercinta!
Terima kasih

Comments

Popular posts from this blog

Kedudukan Ar-ra'yu sebagai Landasan Hukum Islam

Referensi Pada dasarnya umat Islam yang beriman Kepada Allah swt. Meyakini bahwa Sumber utama Ajaran Islam yaitu Alquran dan Hadis sudah sempurna. Firman Allah dalam Alquran sudah sempurna membahas aturan-aturan, hukum, ilmu pengetahuan (filsafat), kisah, ushul fiqh dan lain-lain. Begitu juga Hadis Rasulullah yang salah satu sifatnya menjadi penjelasan ayat-ayat dalam Alquran. Posisi Hadis adalah penjelas dan sumber kedua setelah Alquran.

Hakikat Psikologi Pendidikan

HAKEKAT PSIKOLOGI PENDIDIKAN Oleh : Abdul Haris Mubarak Mukrim I.               PENDAHULUAN A.     Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan salah satu kebutuhan pokok dalam kehidupan manusia yang berfikir bagaimana menjalani kehidupan dunia ini dalam rangka mempertahankan hidup dalam hidup dan penghidupan manusia yang mengemban tugas dari Sang Kholiq untuk beribadah.

Sejam Ngobrol Tauhid dengan Kecerdasan Buatan. Pengalaman yang luar biasa

  temani saya ngobrol ya. Saya meminta Robot AI berdialog. Robot Cerdas Buatan:: Tentu! Mau ngobrolin apa nih? Lagi ada yang dipikirin atau pengen santai aja? Abdul Haris Mubarak:: tentang tauhid. apakah anda sanggup? Robot Cerdas Buatan:: Tentu, saya siap! Tauhid adalah inti keimanan dalam Islam — keyakinan bahwa hanya ada satu Tuhan, yaitu Allah, yang Esa dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Dalam konsep ini, tauhid terbagi jadi tiga bagian utama: Tauhid Rububiyah — meyakini bahwa Allah adalah satu-satunya Pencipta, Pemelihara, dan Pengatur seluruh alam semesta. Tauhid Uluhiyah — hanya Allah yang berhak diibadahi, semua bentuk ibadah seperti doa, shalat, dan tawakal hanya ditujukan kepada-Nya. Tauhid Asma' wa Sifat — meyakini dan mengimani nama-nama Allah (Asmaul Husna) serta sifat-sifat-Nya yang sempurna, sesuai dengan apa yang dijelaskan dalam Al-Qur'an dan hadits tanpa menyerupai makhluk. Menurutmu, bagian mana dari ...