Friday, 28 September 2012

Membaca & Menulis adalah Bahan Bakar Kendaraan Kampus



Ada dua identitas yang melekat pada diri seorang pelajar ketika menyandang status sebagai mahasiswa yaitu pandai penulis dan pembaca. Kedua hal ini merupakan jalan penting meraih suatu tujuan atau menggapai sukses selain belajar materi dan praktik yang disampaikan langsung oleh Dosen. Mengapa membaca dan menulis begitu penting?
Seperti halnya ketika seseorang beranjak menuju suatu tempat, mesti memiliki kendaraan agar perjalanan lebih cepat dan mudah. Kendaraannya adalah kampus atau organisasi dan bahan bakarnya adalah membaca dan menulis.
Sedikit berkomentar tentang pentingnya belajar, yaitu menganalisis masalah (membaca) dan memproduksi wacana (salah satunya adalah menulis) bahwa segala ketimpangan atau sebut saja ketidak-sesuaian antara harapan dan kenyataan yang muncul di Negeri ini atau di Dunia manapun itu berangkat dari sekelumit masalah hingga menjadi masalah yang lebih rumit. Masalah yang lebih rumit ini terjadi karena masalah itu berada pada lingkaran setan yaitu munculnya masalah pada seluruh wilayah, baik wilayah mental, konsep – kebijakan yang tidak pasti, gerakan atau upaya penyelesaian yang apa adanya. Kalau ingin menyelesaikan masalah, analisis masalahnya juga harus tuntas untuk kemudian melakukan eksekusi kebijakan melalui program kerja
Masih pada tema terkait, Saya pernah ditanya ketika membawakan materi oleh peserta Bina Akrab salah satu Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) pada salah satu Jurusan di Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar, katanya “melihat kondisi masyarakat Indonesia yang memiliki sekelumit masalah yang begitu bobroknya, sebetulnya bagaimana cara meretas masalah-masalah yang sulit itu?”. Mengomentari pertanyaan itu, Kalau menurut hemat saya, penanya ini hanya ingin tau dari satu aspek saja, yaitu masalah sosial terkait dengan tema yang sempat saya bawakan ketika itu, namun yang terpenting dalam menyelesaikan masalah adalah “tau” apa yang menjadi masalah yang sesungguhnya serta masalah secara keseluruhan. Dengan mengetahui masalah secara tuntas, orang akan lebih mudah meretas permasalahan secara total. Sebaliknya, jika hanya sebagian masalah yang sempat di”baca” atau di”analisis”, maka wajar kalau penyelesaian masalahnya juga nihil – kalau dibawa pada ranah program, ini tidak tepat sasaran.
Untuk mengetahui lebih banyak masalah, intinya adalah menganalisis data lewat membaca serta data-data lainnya di alam terbuka. Referensinya adalah fakta sejarah, data sejarah, intervensi sejarah, wacana/issue publik, serta referensi umum lainnya sebagai pendukung. Referensi tersebut akan lebih baik lagi ketika diseimbangkan dengan referensi spiritual. Sejatinya, menganalisis masalah itu berangkat dari pengalaman sukses dan gagalnya orang-orang terdahulu serta banyak membaca referensi-referensi terkait. Orang yang mengetahui masalah akan lebih mudah meciptakan ide atau sebut saja gagasan dalam upaya pembaharuan.
Catatan penutup, Gagasan tanpa publikasi atau aplikasi sama saja Nol “0”. Olehnya itu, sangat beruntung seorang ketua yang cerdas dan memiliki konsep karena mereka dapat melaksanakan konsep atau gagasannya melalui wewenangnya selaku ketua. Berbeda dengan mereka yang tidak memiliki jabatan, konsepnya hanya bisa dipublikasikan lewat ceramah dan tulisan. Keistimewaan tulisan ini dapat diabadikan sebagai konsep yang dituangkan dalam buku dan dapat dinikmati atau bahkan dijadikan pedoman oleh seluruh orang di Dunia ini. Mereka akan mengenang dan menghargai konsep anda yang tentunya berangkat dari pembacaan anda yang kritis dan mendalam soal wacana dan perkembangannya.

2 comments:

شُكْرًا كَثِرًا
Mohon titip Komentarnya yah!!
وَالسَّلامُ عَليْكُم