Thursday, 8 November 2012

Indonesia Menuju Game Over dari Panggung Nation State


Siapa bilang bangsa ini mengalami peningkatan kualitas ekonomi, pengetahuan, produksi, moral dan lain-lain? omong kosong kalau kesejahteraan bangsa ini terus membaik! Kalaupun ada data yang memperkuat, itu hanyalah bahasa politik dengan dasar data statistik yang menggunakan pendekatan positivisme tanpa melibatkan indikator lain yang lebih kuat yaitu pendekatan metafisik.
Ini penting karena kesejahteraan itu terkait kepuasan terhadap pemenuhan kebutuhan dasar. Nah! Kepuasan itu tidak terkait dengan data statistik tapi pendekatan perasaan. Pertanyaannya adalah apakah data terkait kesejahteraan sosial benar-benar meningkat? Ternyata hanya sebagian kecil yang “merasa” terpenuhi kebutuhan dasarnya yang meliputi ekonomi, kesehatan, pendidikan, keamanan, akses informasi dan kebutuhan dasar lainnya. Itu berarti kesejahteraan masyarakat telah mengalami pergeseran menuju kebobrokan ekonomi, pendidikan, kesehatan, keamanan dan lain-lain.
Mengapa Indonesia terancam Game Over? Berbicara Ekonomi Politik internasional, Geo-strategi dan Intelegen, ternyata indonesia hanya sebagai objek dari pertarungan konsep, baik mashab ekonomi merkantalis – kapital – liberal dan sosialis, Indonesia hanya diposisikan sebagai lahan subur untuk penguatan ekonomi oleh negara-negara maju. Ilmu pengetahuan dan teknologi dijadikan sebagai alat pengendali mereka di negeri ini. Itulah sebabnya, orang-orang di Negeri ini telah banyak yang terpengaruh oleh positivisme yang mengabaikan estetika dan etika. Sementara itu, tiga pilar utama yang seharusnya dibangun di Negeri ini (minimal bersumber, berbuat, dan untuk negeri sendiri) yaitu usaha ekonomi, peningkatan kualitas pengetahuan, serta jaringan kerja untuk kesejahteraan negeri sendiri ternyata tidak mampu mengurai masalah kesejahteraan sosial. Hanya Negara-negara adidaya yang memegang kendali di Negeri ini yaitu mengendalikan bangsa ini lewat doktrin pengetahuan dan informasi. Dengan demikian, segala sesuatunya akan dikendalikan dan itu berarti telah berada pada ambang kehancuran.
Lalu apa buktinya kalau Indonesia akan mengalami kehancuran dari panggung Nation State? Pertama yang akan diurai adalah pergeseran mental pemuda bangsa. Dalam sejarah, Indonesia dikenal sebagai bangsa yang berperadaban tinggi, lihatlah catatan sejarah tentang pengaruh kerajaan Madja Pahit, Sriwijaya, Gowa-Tallo (Makassar) dan lain-lain yang terkenal pemberani, santun dan inovatif. Pemuda bangsa kala itu lebih terkenal sebagai pelaut yang berani dan gemar menghadapi tantangan alam. Tapi entah kekuatan apa yang mempengaruhi sehingga mental itu kini bobrok. Kalau hanya bergeser menuju “mental darat”, “berani di kandang” itu masih tebilang baik, tapi aneh karena dikandang sendiri saja tidak berani, parahnya lagi, justu sebangsa sendiri yang memiliki tujuan dan cita-cita yang sama dijadikan musuh. Itulah kenyataan, antar pelajar – mahasiswa saja tawuran apalagi antar ras, inilah mental pengecut[1] yang mempercepat runtuhnya NKRI. Sementara Barat semakin dibanggakan, gaya hidup dan filsafanya dijadikan ispirasi tanpa pernah menyadari bahwa mereka adalah penjajah.
Praktisi dan Funsional bangsa ini juga sebagian besar adalah penghianat. Mereka menjual bangsa dengan sangat murah untuk kepentingan pribadi dan kelompoknya tanpa memikirkan nasib bangsa. Anehnya lagi, sebagian besar dari pemuda bangsa ini mendukung hal tersebut karena mendapat imbalan materi seadanya. Alangkah baiknya jika mental pemuda di Negeri ini tetap pada “mental pelaut” yang berani mempertarungkan nyawa demi harga diri dan Bangsa. Tidak sujud pada negeri asing yang menguras, juga tidak simpati terhadap buleg-buleg asing dari negeri kolonial.
Perkara yang kedua adalah spiritual. Agama merupakan jembatan spiritual dalam upaya perjuangan perebutan kemerdekaan Indonesia. selanjutnya, pasca kemerdekaan, agama menjadi sumbangsi terbesar terhadap kekayaan budaya, sebaliknya budayapun memberi warna terhadap agama. Perkawinan budaya sangat sejalan dengan agama hingga masuknya pengaruh-pengaruh orienatalis. Yang menarik dicermati lebih jauh adalah fakta bahwa kajian-kajian Islam bukan hanya meningkat melainkan juga mengalami pergeseran trend. Pada masa lalu, kajian-kajian tentang Islam di Indonesia banyak ditandai dendan upaya-upaya melihat Islam sebagai sistem budaya yang menarik untuk diselami dan dipahami, sedangkan belakangan ini, kajian-kajian tentang Islam yang marak disifati oleh corak yang berbeda, yang melihat islam sebagai potensi dan kekuatan politik.[2]
Akibat dari munculnya beragam kajian-kajian strategis tentang Islam Indonesia yang dipelopori oleh direktur International Crisis Group (ICG) Sidney Johes, tentang adanya gerakan teroris dikalangan Muslim Indonesia. akibatnya kajian-kajian Islam tidak lagi terfokus pada demokratis atau anti demokratis, leberal vs konservatif, melainkan yang lahir justru kelompok radikal yang memiliki aktivitas dan agenda kekerasan, seperti JI, Laskar Jihad, FPI, dan lain-lain.
Agama tidak lagi fokus pada penanaman dan pemeliharaan nilai yaitu etika yang berlandaskan pada kearifan lokal kebudayaan. Tentu gerakan-gerakan ini terinsipirasi dari kelompok yang memiliki kepentingan ekonomi politik di Indonesia. Sejatinya agama tidak ikut memperburuk tatanan negeri dengan hadirnya berbagai gerakan kekerasan tapi menjadi penyejuk dan pelopor lahirnya perdamaian hingga terciptanya semangat yang kokoh untuk membangun bangsa.
Perkara yang ketiga adalah terlalu banyak menjadikan Barat sebagai sumber inspirasi pengetahuan. Barat sebetulnya tidak terlalu fatal secara konsep pengetahuan. Hanya saja ada beberapa kriteria pengetahuan yang diabaikan oleh sebagian besar paham Barat yaitu menolak metafisik sebagai objek kajian, itu karena yang berlaku pada dunia mereka hanyalah sains dengan paham positivisme logis[3]nya. Sementara itu, mistik yang dalam kajian keilmuan disebut sebagai mitologi dicampakkan, ada juga yang menolak etika dan estetika sebagai suatu objek kajian keilmuan tapi menempatkannya pada kajian yang lebih sempit. Sementara di negeri ini, membangun rasio saja tidak cukup, terlebih membatasi rasio pada hal-hal yang bersifat empiris. Sejatinya, pengetahuan harus dibangun atas dasar ketaqwaan sehingga bukan kehancuran yang akan dituai oleh generasi kita. Kalau ditanya, mana yang lebih baik, berpedoman pada Filsafat Barat atau berpegang teguh pada konsep Al-Qur’an yang berlaku secara universal? Tentunya, Al-Qur’an akan menjadi rahmat bagi seluruh alam.
Tiga point yang telah di urai di atas jika dibiarkan berjalan, maka yang akan terjadi adalah kehancuran yang nyata lantaran bukti-buktinya telah diuraikan di atas. Kedamaian tidak lagi dirasakan, penghianatan terhadap bangsa semakin merajalela, kekuatan bangsa, baik politik, pengetahuan, pertahanan keamanan, ekonomi dan sebagainya semakin melemah. Terakhir adalah mari kita menyaksikan indonesia kalah dalam kancah politik internasional – bahkan game over dari panggung nation state. Hanya dengan kasih sayang Allah dan perjuangan pergerakan yang kokoh yang dari gerenasi yang akan membuat Indonesia tetap bertahan.


[1] Dalam film Tjoet Nyat Dien, pengecut digambarkan sebagai orang yang menghianati negerinya sendiri yaitu menjadikan musuh bangsa sendiri dan menjadikan tuan (menjalin kerjasama) orang-orang yang jelas-jelas telah menjajah negeri ini.
[2] Artikel dengan judul “Dari study Budaya ke study Bahaya – Arah Baru tentang kajian Islam di Indonesia oleh Ahmad – Norma Permata – Post tahun 2008 dikutip dari http://indonesianmuslim.com
[3]  Positivisme Logis adalah aliran pemikiran dalam Filsafat yang membatasi pemikirannya pada segala hal yang dapat dibuktikan dengan pengamatan atau pada analisis defenisi dan relasi antara istilah-istilah. Fungsi analisis ini membatasi metafisika dan meneliti struktur logis pengetahuan ilmiah. Tujuan dari pembahasan ini adalah menentukan isi konsep-konsep dan pertanyaan pertanyaan ilmiah yang dapat diverifikasi secara empiris.

1 comment:

  1. sekedar Opini yach! tapi prediksinya logis dan perlu dipertimbangkan Lho

    ReplyDelete

شُكْرًا كَثِرًا
Mohon titip Komentarnya yah!!
وَالسَّلامُ عَليْكُم