Tuesday, 1 January 2013

Merayakan Tahun Baru cukup dengan Mengganti Kalender


Dua cangkir kopi arabika asli dari kebun sendiri menemani malam tahun baruku di depan laptop sambil sesekali menyaksikan tayangan TV yang juga telah kusiapkan di depanku. Malam ini aku sendiri yang begadang sementara bunda dan kakakku telah tertidur pulas. Dua cangkir kopi membuat mataku sulit terpejam sehingga kupilih mencari hiburan lewat chating dan sesekali menyaksikan film India di MNC TV, film favoritku saat ini.

Baru kali ini aku chating dengan durasi waktu terlama yaitu dua tahun, terbiang sejak 2012 hingga tahun 2012. Tiga orang sudah cukup mewakili pesan teman-teman chatingku malam ini. yang saya sebutkan namanya dalam tulisan ini, karena inilah yang paling berkesan dari sekian banyak teman chating yang memberiku inspirasi malam ini. Teman chating yang pertama adalah seorang gadis cantik bernama Nhyar, itu nama akunnya diFacebook. Kami berbagi satu sama lain dan yang menjadi inti pembicaraan adalah alasan, mengapa kami tidak merayakan tahun baru dengan konvoi atau keluar rumah mencari tempat hiburan atau keramaian.
“kenapa tidak keluar rumah kak?” katanya padaku setelah basa-basi membahas persoalan yang tidak jelas sebelumnya.
“aku mau lebih damai di rumah sambil merenung dan berdo’a semoga kita semua selalu menjadi yang terbaik” jawabku lalu aku balik bertanya.
“kamu kenapa tidak keluar rumah merayakan tahun baru?” tanyaku.
“keluargaku tidak ada di sini menemani, aku lebih baik dirumah saja menyendiri lalu merenung”. Kata Nhyar.
Intinya yang terbaik adalah di rumah, soal momentum memang penting tapi yang lebih penting adalah hakekat dari sebuah perayaan itu. Dalam hal ini adalah, refleksi tahun baru bisa dimaknai Bukan semaraknya, bukan pula seremonialnya tapi makna tahun baru itu sejatinya kita rayakan dengan perjuangan yaitu meningkatkan hal-hal yang belum sempurna, mempertahankan yang baik, dan meninggalkan yang kurang/buruk”.
Teman chating yang kedua adalah seniorku. Edward Nauli namanya. Tenyata belia juga melakukan hal yang sama denganku (lebih memilih berdiam di rumah) dan memberiku motivasi untuk selalu bekerja berdasarkan nurani, ikhlas dan tulus. Yang terpenting dari pesannya adalah memberiku motivasi untuk berjuang walau sendiri.
Sahabat Chating yang ketiga adalah Syamsul Rijal, Beliau adalah sekampungku dari Bulukumba tapi beliau lagi menikmati perantauan di Kalimantan. Di sana beliau kelihatannya sudah sukses karena telah dibuat pusing oleh urusan kantor, (pikirku).
Dalam dialog kami, yang didiskusikan adalah bagaimana memaknai tahun baru. Ternyata ritualnya juga biasa-biasa saja.
“happy new year” katanya membuka dialog.
“ucapan yang sama senior” jawabku, lalu balik bertanya.
“apa kegiatan tahun barunya di sana?”
“duduk di kamar merokok, minum kopi sambil selesaikan laporan kantor” balasnya disertai simbol avatar yang menggambarkan beliau lagi pusing, mungkin urusan kantor yang terlalu banyak membuatnya pusing dalam pikiranku.
“sama sepertiku! Ditemani dua cangkir kopi, sambil Online dan nonton film tapi sayangnya saya belum mendapatkan kesibukan kerja” celotehku membalas chatnya.
“berdoa saja dan berusaha, akan ada jalannya nanti, selesaikan saja s2 kamu lebih dalu”. Pesan beliau.
Saya nilai motivasi ini sangat berharga bagiku. Saya ucapkan terima kasih karena telah memotivasiku, sungguh ini motivasi yang sangat kaya.
-.-0-.-
Teman-teman yang lain, sangat banyak yang memberi ucapan “selamat tahun baru” dan pesan agar menjadikan tahun lalu pelajaran dan berdo’a serta berharap tahun ini mentapatkan prestasi yang lebih baik, mendapatkan karunia dan keberkatan dari sang pencipta.
Pesan terakhir dari sahabaku Muhammad abdi Goncing yang pesannya baru beberapa detik masuk dalam chatboxku adalah bahwa “intinya tahun baru adalah sekedar pergantian kalender, tidak ada yang lebih” dan memang secara filosofis itu benar. Waktu terus berputar dan ruang selalu terbuka untuk kita. Dengan demikian, yang terbaik adalah orang yang bisa memanfaatkan waktunya secara tepat dan menempatkan sesuatu pada tempatnya.


9 comments:

  1. hehehe,

    sepakat!!
    tahun baru hanyalah sekedar ganti kalender.

    terlalu berlebihan jika disakralkan, pula terlalu naif jika dianggap haram untuk sekedar memberi ucapan selamat.

    ReplyDelete
    Replies
    1. jadi ditanggapi santai saja yah? tapi melakukan hal-hal yang baik kan bisa dilakukan!

      Delete
  2. Kisah nyata,

    Malam Tahun baru yang Menarik untuk dibaca,
    menarik dan unik karena sebagian Masyarakat,
    katakanlah Sul - Sel banyak yang menghabiskan malam tahun barunya
    dengan membuat acara khusus, entah karena memang Tahun baru sangat berkesan,
    atau Allahu A'lam.

    Kisah ini mungkin kalau di izinkan saya simpulkan
    bahwa :
    Merayakan Tahun Baru tdk harus "Berpesta"
    cukup niat dan hati yang Selalu Ikhlas menjalani hdp.

    ReplyDelete
    Replies
    1. seperti itulah adanya, pesan teman-teman bahwa santai saja dengan semua ini. tapi untuk berbuat baik atau bertaubat melalui suatu momentum pergantian waktu itu ada nilai lebinya. nabilang ibu Icha "ANITA" = ada nilai tambahnya

      Delete
  3. sama seperti pesannya Muhammad Abdi Goncing,
    cukup ganti kalender katanya sebagai momentum perintan tahun barunya

    ReplyDelete
  4. Bisa Potong Ayam, Asal PanggiL teman - teman...
    supaya Rame Potongnya...

    ReplyDelete
  5. insya Allah bulan dua ada acaraku. yaa Persiapan membangun rumah tangga, tapi masa ayam???

    ReplyDelete

شُكْرًا كَثِرًا
Mohon titip Komentarnya yah!!
وَالسَّلامُ عَليْكُم