Thursday, 10 January 2013

Romantika Pacaran


Nikah merupakan suatu hubungan yang mengikat sepasang muda-mudi yang menghalalkan atasnya hubungan biologis yang melibatkan alat reproduksi manusia. Pria dan wanita yang merasa telah siap melakukan hubungan tersebut biasa segera menyusun rencana pernikahan. Hal tersebut disebabkan karena nikah merupakan jalan untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia yaitu menyalurkan hasrat seksual. Seperti yang dirasakan Dudi, belum lengkap rasanya jika dia tidak segera menikah. Itulah yang dirasakan seorang pemuda yang usianya yang telah mencapai 25 tahun. Dia merupakan pemuda ulet dan baik hati.

Bagi Dudi, memilih pasangan memang memiliki kriteria, namun hal tersebut tidak ditanggapi serius. Meskipun demikian, dia tetap memiliki patokan dasar untuk mencari pasangan hidup. Dia lebih memilih menemukan kecocokan dengan cara berpacaran tanpa mengincar beberapa kriteria yang selama ini telah dia ketahui.
Hal yang terpenting dalam memilih pasangan bagi Dudi adalah ada kecocokan. Sifat Dudi yang sedikit peminin cenderung mengukur kecocokan dengan menggunakan rasa. Pilihan tersebut ada benarnya karena rasa memang merupakan indikator penting dalam mengarungi mahligai rumah tangga. Prinsip tersebut berarti, jika merasa cocok maka pacaran atau perkenalan tersebut boleh dilanjutkan pada jenjang yang lebih serius yaitu membangun rumah tangga dan jika merasa tidak cocok maka sudah seharusnya masing-masing dari mereka bubaran dan mengurungkan niat untuk hubungan yang lebih serius.
Dudi merasa cocok dengan wanita yang telah dipacarinya sejak dua tahun lalu. Wanita itu bernama Rini.
Pada keluarganya, Dudi mengungkapkan niat segera mempersunting Rini. Dudi merasa bahwa orang yang paling dekat dengannya adalah Ibunya, olehnya itu dia memilih membicarakan niat baik mempersunting Rini pada ibunya.
“Bu, rasanya saya sudah cukup waktu untuk menikah” Kata Dudi pada Ibunya.
“Boleh saja, yang terpenting kamu sudah harus siap lahir dan batin. Juga matang secara prinsip maupun rasa”. Jawab ibunya secara singkat namun padat makna.
“Iya Bunda, aku sudah merasa siap”. Terang Dudi
“Kamu merasa siap?, rasa siap itu belum mencapai setengah keteguhan hati”. Ibu Dudi menjelaskan.
“Lalu apa lagi yang harus aku siapkan Bunda?” tanya Dudi membutuhkan kejelasan.
Ibu Dudi menerangkan perihal syarat dan kriteria memilih pasangan. Beliau berpesan pada Dudi bahwa memilih calon istri itu harus siap lahir (materi) dan batin (siap mengasihi, rindu, sayang, perhatian, cinta, cemburu dll.) begitu juga siap secara mental, rasio dan bakti secara berimbang. Kriteria tersebut sudah meliputi rasa dan rasio namun masih bersifat umum, butuh penyesuaian pada kedua belah pihak untuk mengukur semua itu, termasuk pihak keluarga.
Dudi mengangguk tanda bahwa ia memahami maksud Ibunya. Ia mengomentari pesan itu dengan berkata “kalau aku sudah hampir cukup, tapi aku harus menanyakan niat ini pada Rini, disamping juga butuh restu dari seluruh keluarga kita termasuk  dukungan keluarga Rini”.
Apa yang menggoda Dudi pada Rini sebetulnya mengacu pada Sunnah Nabi saw. Bahwa ketika khendak memilih pasangan hidup maka pilihlah karena cantiknya, hartanya, keluarganya yang baik serta agamannya. Namun agamalah yang terpenting dari semuanya. Kebetulan Rini adalah sosok yang hampir memiliki semua itu. Rini adalah sosok wanita yang memiliki paras cantik, dari keturunan keluarga yang baik dan sejahtera, hanya saja ia adalah seorang gadis yang menganut paham liberal. Ia agak bebas bergaul pada setiap orang tanpa memandang ia pria atau wanita, namun ia mampu menjaga diri.
Sebagai sosok wanita yang memiliki kelebihan, ia banyak mendapat godaan dari pemuda-pemuda lain. Banyak pria yang tertarik pada sosok Rini yang cantik, rupawan, tajir dan dari keluarga yang damai serta taat beragama.
Hal yang menjadi masalah bagi Dudi adalah karena Rini selalu disapa oleh banyak pemuda. Dudi ingin melarang Rini merespon pemuda lain sementara ia tau bahwa Rini adalah sosok yang santun pada orang lain. tidak mungkin ia melarang Rini bergaul dengan pemuda lain walaupun ia telah terikat dengan seorang pacar.
Akibat dari pergaulan yang agak bebas oleh Rini, Dudi mulai merasakan keraguan pada Rini. Dia mengkhawatirkan Rini bermesraan dengan laki-laki lain. Keadaan tersebut semakin memperburuk suasana karena ia menyaksikan sendiri Rini melakukan adegan mesrah pada teman-teman lelakinya meskipun ia telah meyakinkan Dudi bahwa mereka hanyalah sebatas temanan. Inilah yang tersulit bagi Dudi yaitu menyaksikan pacarnya bergaul mesra pada setiap laki-laki yang dekat dengannya.
Menyaksikan itu, Dudi lalu mencoba membatasi cara bergaul Rini. Pada suatu kesempatan, Dudi menemui Rini dan berdialog agak serius.
“Rini, aku sayang kamu! Banget!” ucap Dudi meluluhkan Rini.
“Iya Kang, Makasih udah sayang. Aku juga sayang kamu!” balas Rini.
“Boleh aku pintah sesuatu padamu? Ini untuk hubungan kita juga!” Pintah Dudi.
“Iya kang, aku akan melakukan apapun yang kamu minta selama itu tidak melanggar etika” kata Rini.
“Sejujurnya yang ingin kusampaikan hanya rasa cemburuku padamu yang bebas bergaul mesra pada teman lelakimu, itu saja. Jadi aku mohon mengertilah!” Pintah Dudi.
“Terima Kasih kang telah cemburu, aku tanggapi positif saja semua itu bahwa kamu benar-benar cinta padaku. Aku mengerti perasaan kakang, hanya saja naif rasanya kalau tiba-tiba aku harus membatasi cara bergaul dengan mengubah sifatku yang mesrah jadi kaku”. Terang Rini.
“Aku tidak ragu padamu! Hanya butuh pengertianmu!” Pintah Dudi.
“Apa itu tidak cukup kang?” tegas Rini agak kesal.
Baru kali ini mereka membuat kesan yang kurang baik saat bersama. Sebelumnya ia selalu baik-baik saja. Kali ini Rini merasa kesal akibat merasa dipaksa membatasi pergaulan sementara Dudi merasakan telah ada perubahan pada sosok Rini. Sungguh Rini telah memperlihatkan kekesalannya pada Dudi.
Rini adalah sosok yang setia. Teman-teman lelakinya hanya sebatas teman mesra belaka tanpa membagi cinta. Sungguh sikap yang sulit dimengerti oleh banyak orang, termasuk Dudi pacarnya sendiri.
Bagaimanapun sikap Rini, Dudi sudah mantap untuk segera memperistri dia. Namun kecemburuan Dudi semakin menjadi-jadi ketika melihat Rini tetap pada prinsipnya bergaul mesra pada teman-teman lelakinya.
Cara yang dipilih Dudi untuk mengatasi masalahnya adalah mencoba menjaga jarak terhadap Rini dan bergaul pada wanita lain dengan gaya romantis untuk mengetahui apakah ia cemburu atau tidak. Usaha itu ternyata berhasil karena Rini mulai bertanya-tanya dalam benaknya, apa yang menimpa Dudi sehingga dia menjaga jarak dan memilih bergaul dengan wanita lain. “Ada yang lain pada diri Dudi”. Kata Rini dalam benaknya.
Sebagai seorang wanita yang memiliki perasaan yang peka, Rini merasa ada yang berubah pada Dudi. Karenanya mulai muncul keragu-raguan terhadap kasih sayang Dudi yang selama ini dijanjikan.
Pada suatu kesempatan, Rini dan Dudi bertemu untuk membahas suatu persoalan yang mereka hadapi. Kali ini, Rini yang mengangkat permasalahan.
“Kang, kenapa akhir-akhir ini kamu kelihatan berubah?” Sahut Rini membuka bicara.
“Bagaimana maksudmu Rini?” Tanya Dudi.
“Aku merasa ada yang aneh padamu, kamu telah berubah. Dulu perhatianmu sangat terfokus padaku tapi kini kamu kelihtan cuek, sepertinya ada yang mencuri perhatianmu diluar sana yang lebih baik dari aku!” seru Rini, ia menjelaskan hal yang dirasakannya.
“Mungkin saja itu cuma perasaan kamu Rini!” Dudi mengelak disebut telah berubah.
“Lantas atas dasar apa sikap kakang berubah?” Tanya Rini.
“Aku tidak berubah, Aku tetap cinta padamu. Kasih sayangku kupersembahkan pada dinda semata”. Jawab Dudi.
“Terus alasan kakang cuek karena apa?” tanya Rini kembali ingin memperjelas sikap Dudi.
“Aku hanya ingin tau apakah kamu bisa merasakan apa yang kurasakan. Aku cemburu saat kamu dekat dan bermesraan pada teman-teman lelakimu, olehnya itu aku ingin tau apakah yang kamu lakukan itu adalah model perselingkuhanmu atau bukan?!” tegas Dudi.
“Hmmm!, maafkan aku kang. Aku telah salah dalam bersikap. Kini aku tau buah dari sikapku yang tidak tepat”. Pintah Rini mengakui kesalahan.
“Iya Rini, kini juga aku tau dan sadar bahwa dihatimu hanya ada aku. Itu karena sikap cemburumu yang berlebihan saat aku mencoba cuek dan menjaga jarak darimu terlebih saat aku mencoba bergaul dengan sahabat wanitaku. Akupun sadar bahwa kamulah yang paling tepat di hatiku karena hanya kamu wanita yang sanggup menyenangkan dan menggembirakan aku”. Dudi menanggapi Rini.
Rini dan Dudi selanjutnya sepakat untuk mengakhiri masa pacaran mereka menuju hubungan yang lebih serius. Mereka telah merasakan romantika miniatur rumah tangga sehingga kedepannya mereka akan lalui bubungan mereka dengan saling percaya, ikatan cinta dan kasih sayang serta menjadi keluarga kecil yang selalu memberi ketenangan dan kedamaian pada keluarga. Segala kesalahan saat berpacaran telah mereka buang karena mereka yakin bahwa hal tersebut akan menghambat hubungan rumah tangga.
Setelah merasakan pahit manisnya dunia pacaran. Dudi dan Rini akhirnya sepakat untuk melangsunkan pernikahan. Mereka telah mendapat restu dari masing-masing keluarga mereka, termasuk dari teman-teman Rini yang selama ini dijadikan sebagai teman mesranya. Pilihan untuk menikah dilaksanakan karena mereka ingin ada ikatan yang lebih serius.
-.-0-.-

2 comments:

  1. Sangat menarik dibaca, karena saya juga ingin Menikah... hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Harus ku akui bahwa aku ingin ikutan nikah.
      tapi pesan ayah saya (alm) untuk mencari wanita yang memiliki "teppe', siri' na pa'dissengngeng"

      Delete

شُكْرًا كَثِرًا
Mohon titip Komentarnya yah!!
وَالسَّلامُ عَليْكُم