Friday, 11 December 2015

Warisan dan Tantangan untuk Generasi Penerus



Setidaknya terdapat tiga jenis generasi kepemimpinan yang hidup dalam sistem kemasyarakatan antara lain 1) generasi senja atau pensiunan, 2) pemimpin, pendidik, pengawas dan orang-orang yang sedang bertugas untuk kepentingan bangsa dan 3) adalah generasi penerus atau generasi muda.

Generasi muda merupakan penerus dari generasi yang sebelumnya. Kualitasnya generasi muda atau generasi pelanjut tugas kekhalifahan sebagian besar ditentukan oleh generasi pendahulu yang telah mendidiknya. Selebihnya muncul dari dalam diri maupun ketetapan dari tuhan melalui ilham.
Ada nilai yang melekat pada setiap orang dan generasi dari apa yang mereka perbuat. Nilai dasar dari perbuatan tersebut hanya berada pada skala baik, biasa/sedang dan buruk. Oleh generasi dapat diberi nilai tergantung bagaimana mereka menorehkan prestasi dan kelakuan. Kalau mereka berprestasi baik dan cemerlang serta tingkah laku yang sesuai dengan kode etik maka nilai yang didapatkannya adalah “baik”. Sebaliknya mereka yang tidak berprestasi serta bertingkah yang melanggar kode etik maka merekalah yang mendapatkan nilai buruk dan memungkinkan dikenang sepanjang masa.
Ada pepatah populer mengatakan bahwa “setiap pemimpin ada masanya dan setiap masa ada pemimpinnya”. Jika generasi dihubungkan dengan kepemimpinan maka sejatinya setiap masa selalu ada kebaikan muncul untuk selalu diwariskan pada generasi selanjutnya karena jika ada cacat atau pekerjaan buruk yang diwariskan maka itulah yang menjadi catatan dalam sejarah dan selalu dikenang.
Penulis selalu mengharapkan warisan yang baik dari generasi pendahulu atau setidaknya memberikan pendidikan yang terbaik agar bangsa ini menjadi negeri yang berperadaban tinggi. Kenyataannya bahwa bukannya pendidikan yang diharapkan baik namun hampir seluruh segi kebijakan diwariskan dalam keadaan berantakan. Sebagai contoh, jika dilihat lebih jauh, bisa disaksikan dengan jelas kerusakan lingkungan akibat ulah oknum yang tidak bertanggung jawab, yang pasti bahwa kegiatan pengrusakan lingkungan bukan tidak diketahui oleh pemegang kebijakan tapi mereka seolah acuh tak acuh dengan persoalan ini. Contoh lain terkait birokrasi yang dijalankan dengan berbagai praktik yang tidak sesuai dengan aturan misalnya pungutan liar untuk masyarakat yang memerlukan urusan administrasi di kantor-kantor milik pemerintah. Padahal hampir seluruh masyarakat telah mengetahui secara pasti  bahwa ada etika yang mesti dipegang teguh oleh setiap kantor pemerintahan yang lahir dari reformasi birokrasi mengharuskan adanya praktik yang akuntabilitas, pelayanan prima, bebas dari pungutan liar dan lain-lain. Contoh-contoh yang telah dimunculkan tersebut masih sebagian kecil dari kenyataan yang dihadapi bangsa ini. Masih ada banyak warisan negatif yang akan diterima oleh generasi penerus antara lain memperlihatkan kebiasaan untuk korupsi, kolusi, nepotisme, plagiat dan kebiasaan-kebiasaan buruk lainnya.
Ketokohan beberapa pemimpin bangsa yang biasa memperlihatkan kebiasaan buruk bisa saja menjadi inspirasi bagi generasi muda calon pemimpin bangsa untuk ditiru. Meskipun hal-hal yang diperbuat tidak baik namun karena dianggap sudah biasa maka orang-orang tidak lagi malu melakukan hal-hal seperti itu. Warisan pendidikan yang kurang baik menyebabkan banyak orang yang tidak malu membuang sampah disembarang tempat, merokok ditempat umum yang mengganggu orang lain, tidak disiplin, tidak mau antri dan lain-lain.
Sebetulnya banyak hal positif yang bisa diwariskan oleh generasi muda dari orang-orang terdahulu. Bangsa ini dulunya terkenal dengan keberaniannya hingga menguasai beberapa wilayah di muka bumi ini. Begitu juga dengan kejujuran, gotong-royong, saling menghargai keberagaman, terdidik, patuh pada orang tua dan kedermawanan namun semua itu seolah-olah tenggelam ditelan zaman karena kebaikan telah dikalahkan oleh keburukan.
Penulis pernah merasakan hal yang menggoncangkan jiwa karena orang yang selama ini ditokohkan justru berbuat kekonyolan. Ia sangat pandai merayu dan memberi harapan (janji) pada orang lain demi kepuasan pribadinya, selanjutnya ia memberikan kesan yang seolah-olah sangat heroik dan menjadi dewa penolong. Ia berkata yang baik namun dibalik perkataannya tersimpan ancaman besar karena hampir tidak ada janji yang ditepatinya. Persoalan ini menurut salah satu teman penulis bahwa ini sudah biasa dan telah terjadi di masyarakat umum. Kalau demikian adanya, berarti ancaman besar akan merasuki generasi bangsa yang sudah terbiasa dihianati dan tau bagaimana menghianati kawan dan generasinya jika ia menjadi pemimpin suatu saat nanti.
Tentang bagaimana menjaga amal atau perbuatan, terutama kaitannya dengan amalan genarasi untuk masa yang panjang sebagaimana firman Allah dalam Q.S (Al-Hadid 57 : 16) “Belumkah datang waktunya untuk orang-orang beriman untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kebenaran yang turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya diturunkan al-Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras[1]
Peringatan Allah sebagaimana disebutkan pada ayat di atas dapat dipahami bahwa tidak boleh mewariskan atau menerima kebiasaan-kebiasaan buruk yang dilakukan oleh orang-orang terdahulu. Bisa juga dipahami bahwa tidak boleh meneruskan kebiasaan-kebiasaan buruk pada generasi selanjutnya.
Pesan luar biasa yang penulis dapatkan dari sahabat bahwa jika suatu saat ditemukan hal-hal yang buruk maka tinggalkanlah keburukan itu kecuali ada hal-hal baik dan bermanfaat yang bisa diambil darinya (buang yang buruk dan ambil baiknya saja). Sementara untuk tantangannya, mewariskan kebaikan yang telah dikalahkan oleh keburukan sudah semakin sulit. Orang lebih cenderung memilih yang simple dari pada memilih cara yang ribet dengan proses yang lebih panjang. Tentunya ini menjadi tantangan berat karena keinginan orang lebih memilih hal-hal yang praktis daripada harus menempuh cara-cara yang lebih beretika. Saat ini sudah lumayan sulit mendapatkan orang yang benar-benar mau belajar dengan niat memperbaiki bangsanya, tapi yang banyak adalah orang belajar untuk menjadi robot atau pekerja. Terbukti bahwa materi telah merasuki hampir seluruh lini kehidupan, bahkan ibadah kepada tuhan pun terancam dikenakan pajak nantinya.
Memperbaiki bangsa yang sulit memang membutuhkan keseriusan dan dilakukan secara total oleh seluruh lapisan masyarakat. Bukan hanya dilakukan sepihak oleh guru yang mendidik generasi bangsa tetapi juga mesti didukung oleh pemerintah dan orangtua terhadap anaknya serta lingkungan sekitarnya. Untuk itu dukunglah kebaikan untuk generasi yang lebih baik



[1] Muslich Sabir, Terjemah Riyadus Shalihin, (Toha Putra, Semarang, 1981), h. 98

No comments:

Post a Comment

شُكْرًا كَثِرًا
Mohon titip Komentarnya yah!!
وَالسَّلامُ عَليْكُم