Skip to main content

Jelajah - Tanjung Bayang



Bergeser tidak jauh dari Pantai Losasi (bagian selatan) terdapat Tanjung Bayang dan Tanjung Merdeka. Tempat ini ramai dikunjungki oleh masyarakat Makassar maupun dari luar Makassar untuk tujuan refreshing (mandi di pantai), rapat organisasi yang dilakukan di Villa Tanjung Bayang oleh organisasi mahasiswa atau kegiatan menarik lainnya. Memang belum ada pemandangan yang menarik (versi penulis) tentang Tanjung Bayang ini kecuali gadis-gadis seksi yang kadang mandi di sana.

Salah satu kelebihan Tanjung Bayang adalah masih cukup bersih dari limbah perusahaan atau sampah pesisir sehingga pengunjung masih merasa nyaman untuk mandi. Destinasi ini sangat berbeda dengan Pantai Losasi dan beberapa pelabuhan di sekitarnya itu memperlihatkan air laut yang sangat kotor sehingga tempat ini (pantai losari) tidak cocok untuk wisatawan yang ingin mandi air laut.
Tanjung Bayang yang merupakan objek wisata pantai di Makassar dan bagi pengunjung harus mempersiapkan sedikit retribusi untuk masuk lokasi ini. Sementara bagi pengunjung yang ingin menggunakan pondok/villa harus mempersiapkan minimal Rp. 250 ribu, begitu pula yang ingin menggunakan balai bambu maka mereka harus membayar dengan tarif yang lebih murah.
Jika anda adalah penjelajah alam dan menyukai tempat wisata maka Tanjung Bayang adalah salah satu rekomendasi jelajah untuk anda. Untuk mencapai tempat ini cukup mudah karena sangat populer bagi masyarakat Makassar.

Comments

Popular posts from this blog

Kedudukan Ar-ra'yu sebagai Landasan Hukum Islam

Referensi Pada dasarnya umat Islam yang beriman Kepada Allah swt. Meyakini bahwa Sumber utama Ajaran Islam yaitu Alquran dan Hadis sudah sempurna. Firman Allah dalam Alquran sudah sempurna membahas aturan-aturan, hukum, ilmu pengetahuan (filsafat), kisah, ushul fiqh dan lain-lain. Begitu juga Hadis Rasulullah yang salah satu sifatnya menjadi penjelasan ayat-ayat dalam Alquran. Posisi Hadis adalah penjelas dan sumber kedua setelah Alquran.

Saya Memilih Domisili di Kab. Gowa

Setelah memilih salah satu dari kandidat calon pemimpin baru Sulawesi Selatan pada selasa kemarin. Kali ini saya dihadapkan pada pilihan menetap di Bulukumba atau Kabupaten Gowa. Pilihan ini sebetulnya agak ribet bagi saya. Jika saya memilih tinggal di Bulukumba, berarti saya harus menyiapkan waktu dan tenaga ke Makassar setiap hari jum’at untuk kuliah dan balik lagi kekampung pada hari minggu untuk rutinitas pertanian.

Belajar dari Kekecewaan

Sambil ngopi dan ngobrol di kamar kost seorang diri (maksudnya mikirin nasib dimasa mendatang) tiba-tiba perhatian saya tertuju pada sebuah status yang ditulis oleh Ustadz Sukardi yang popuer disapa ustads muda di kampung kami.