Skip to main content

Zaman yang Seolah-olah

Seolah-olah eksis. 
Belakangan ini aksi “seolah-olah” semakin menjadi-jadi, seakan-akan hal tersebut menjadi saksi bahwa seseorang telah melakukan sesuatu yang berharga yang patut diketahui oleh dunia.
Bentuk aksi seolah-olah antara lain; kuliah/belajar yang seolah-olah, bekerja/berjuang yang seolah-olah, cantik/tampan yang seolah-olah, bersih/alim/sholeh atau pribadi positif lainnya yang seolah-olah. Media massa memang gampang saja membohongi masyarakat karena setiap publikasi selalu menyertakan data yang meyakinkan.
Seolah-olah merupakan pembohongan publik yang hari ini diakui sebagai aksi eksis di dunia maya. Meski telah dihiasi oleh berbagai editan, penyempurnaan gaya, mengangkat ketokohan pribadi dan bentuk penyempurnaan lainnya tapi ini tetap bentuk rekayasa.
Aksi “seolah-olah” adalah pergeseran dari prinsip “apa adanya” yang hari ini merupakan prinsip yang sudah cukup langka. Prinsip apa adanya juga merupakan pergeseran dari tawadhu bahwa “siapalah diri ini” yang tiada lain hanyalah abdi yang tidak perlu diketahui orang lain cerita perjuangan dan keberhasilannya.
Pergeseran Eksistensi Diri
.......... >> Tawadhu >> Apa adanya >> Seolah
Olah >> ..........
Kalau ini terus mengalami pergeseran ke arah negatif berarti alangkah hancurnya generasi bangsa di masa yang akan datang. Semoga aksi seolah-olah tidak lagi menjadi gaya generasi bangsa ini untuk selanjutnya.

Comments

Popular posts from this blog

Kedudukan Ar-ra'yu sebagai Landasan Hukum Islam

Referensi Pada dasarnya umat Islam yang beriman Kepada Allah swt. Meyakini bahwa Sumber utama Ajaran Islam yaitu Alquran dan Hadis sudah sempurna. Firman Allah dalam Alquran sudah sempurna membahas aturan-aturan, hukum, ilmu pengetahuan (filsafat), kisah, ushul fiqh dan lain-lain. Begitu juga Hadis Rasulullah yang salah satu sifatnya menjadi penjelasan ayat-ayat dalam Alquran. Posisi Hadis adalah penjelas dan sumber kedua setelah Alquran.

Saya Memilih Domisili di Kab. Gowa

Setelah memilih salah satu dari kandidat calon pemimpin baru Sulawesi Selatan pada selasa kemarin. Kali ini saya dihadapkan pada pilihan menetap di Bulukumba atau Kabupaten Gowa. Pilihan ini sebetulnya agak ribet bagi saya. Jika saya memilih tinggal di Bulukumba, berarti saya harus menyiapkan waktu dan tenaga ke Makassar setiap hari jum’at untuk kuliah dan balik lagi kekampung pada hari minggu untuk rutinitas pertanian.

Belajar dari Kekecewaan

Sambil ngopi dan ngobrol di kamar kost seorang diri (maksudnya mikirin nasib dimasa mendatang) tiba-tiba perhatian saya tertuju pada sebuah status yang ditulis oleh Ustadz Sukardi yang popuer disapa ustads muda di kampung kami.