Monday, 11 February 2013

Berduaan dan Menduakan


Sore kemarin saya sangat bingung harus ngapain, maklumlah karena mental saya sempat diuji oleh ketua Program Studi MPI PPs Univesitas Muslim Indonesia yang sekaligus menjadi pembimbing penyelesaian tesis saya. Jadinya saya memilih pulang istrahat dan merencanakan agenda esok hari. Untungnya, pada saat yang bersamaan, datang teman kampusku pada PPs UMI Makassar yang mengambil program Studi Ilmu Hukum menemaniku di kontrakanku.

Topik tentang sendiri (menyendiri) atau berdua (berduaan). Sendiri atau menyendiri biasanya sangat cocok dilakukan oleh para pencari kebenaran sejati atau jalan bagi para pencari tuhan (jalan spiritual). Tujuan menyendiri adalah melatih fokus dan konsentrasi terhadap objek yang dituju. Sedangkan “berdua atau berduaan” yang dimaksud adalah berkumpulnya (sepasang) laki-laki dan perempuan dewasa ditempat yang tertutup.
Apa bahayanya jika seseorang berduaan? Teman kampusku telah menjadi saksi tentang hal ini. Betapa banyak orang yang curhat padanya kalau seorang wanita yang berjilbab pun jika sering berduaan dalam kamar maka kehormatannya sudah tidak terjamin. Kata teman saya bahwa kesaksian itu didengarnya langsung, bahkan disaksikan akibat dari pergaulan bebasnya itu berbuah kehamilan di luar nikah. “saya ini wanita yang paham agama dan menggunakan jilbab, bahkan kamu tidak pernah melihat saya melepaskan jilbab tapi saat berduaan, goadaannya teramat besar sehingga siapapun bisa terjerumus”. Pernyataan itu telah dilontarkan oleh seorang wanita terhadap teman saya.
Seorang lelaki sholeh atau seorang wanita sholehah[1] tidaklah menjamin akan selamat dari godaan zina jika sering berduaan. Mengapa demikian?, yang terlanjur terjerumus atau mereka mengerti patologi sosial akan membenarka ayat al-Qur’an yang melarang umat manusia mendekati zina.[2] Berawal dari pegangan tangan, lalu jalan berduaan, hingga penasaran ingin merasakan kecupan lalu pada akhirnya akan meraba hal-hal yang sensitif. Manusia itu mahluk yang memiliki tingkat penasaran sangat tinggi dan selalu ingin mencoba seusuatu yang membuatnya penasaran. Hal tersebut erat kaitannya dengan faktor kebiasaan seseorang. Jika pada waktu kecil terbiasa melakukan hal-hal yang baik, belajar dengan sungguh-sungguh serta tekun bekerja maka kebiasaan itu akan berbuah baik nantinya. Sebaliknya, jika yang dibiasakan adalah mencoba bergaul dengan “orang-orang nakal”, maka setidaknya pengaruh nakal akan menular walau sedikit. Sebagai contoh. Seseorang yang bergaul dengan perokok bakal penarasan dengan rasa rokok, terlebih jika sering ditawari rokok. Dari rokok akan meningkat menjadi peminum minuman keras[3], jika salah satu diantara mereka ada yang menggunakan narkoba, yang lainnya kemungkinan besar akan terjerumus pula. Nah pada kondisi tersebut, berduaan dengan lawan jenis tidak lagi menjadi sesuatu yang sakral tapi sudah bebas.
Lalu bagaimana jika seseorang menduakan atau diduakan? Sama-sama bahaya. Jika kita yang menduakan, kondisi terparah yang bakal kita terima adalah dikucilkan bahkan disantet. Terlebih jika menjadi seorang yang musyrik pada sang khaliq, itulah dosa besar yang tidak bakalan ada ampunan untuknya. Bagaimana kalau kita diduakan? Pastinya sakit hati. Orang akan lebih memilih dinomor duakan dibanding jika harus diduakan karena salah satu diantaranya bernada selingkuh. Angka dua ternyata sangat berbahaya jika tidak ditempatkan pada tempatnya.



[1] Sholeh dan sholehah hanya diartikan secara simbolik sehingga kemungkinan pandangan ini akan sedikir berbeda olehnya itu, khusus pada tulisan ini, Sholeh dan Sholehah adalah mereka yang paham agama dan terlihat tekun mengamalkannya
[2] Mendekati zina salah satunya adalah berpegangan tangan dengan lawan jenis yang bukan muhrim saat, bisa juga berduaan jalan.
[3] Faktor kebersamaan biasanya mempengaruhi perilaku pergaulan bebas

No comments:

Post a Comment

شُكْرًا كَثِرًا
Mohon titip Komentarnya yah!!
وَالسَّلامُ عَليْكُم